5 Tip Melakukan User Research untuk Perusahaan Startup

Teman-teman desainer saya selalu bertanya apakah saya melakukan user research di Honestbee. Tentu saja kami melakukannya. Bahkan, untuk startup yang punya sumber daya terbatas, user research adalah hal yang sangat penting.

Dalam konferensi Warm Gun 2014, Braden Kowitz menjelaskan beberapa poin tentang bagaimana desainer startup harus fokus pada hal-hal yang benar-benar penting:

(Yang terpenting) adalah rasa ingin tahu terhadap masalah yang ingin kamu selesaikan, semangat untuk bekerja dan mengotori tangan, serta iterasi tervalidasi yang bisa diterima secepat mungkin oleh masyarakat.

Sebagai desainer produk, memahami pengguna dan mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari tiap iterasi adalah dasar pemikiran dari desainmu. Tapi bagaimana caranya membuat user research yang efektif dan bernilai bagi perusahaan startup? Di bawah ini adalah beberapa catatan dari pengalaman saya selama ini.


Tentukan target demografis dan tujuan

Pastikan kamu mencari partisipan, peralatan, serta cara yang tepat untuk risetmu. Gunakan framework 5W1H: Mengapa kamu ingin melakukan riset? Apa yang ingin kamu ketahui? Siapa saja yang terlibat di dalamnya? Di mana tempat yang pas untuk melakukannya? Kapan deadline yang tepat? Bagaimana cara kamu melakukan riset dengan sumber daya terbatas? Berapa sesi yang akan kamu lakukan? Pertanyaan seperti ini bisa muncul lebih banyak lagi.

Dengan memahami semua hal di atas, kamu bisa menyusun rencana yang logis, menemukan insight, dan menentukan tujuan yang pasti.

Honestbee | User Research Draft

Contoh draf yang bisa kamu buat sebelum riset.

Jadilah fleksibel dan kreatif

Dengan latar belakang desain yang saya miliki, saya sudah akrab dengan metodologi dan proses kualitatif holistik selama bertahun-tahun. Misalnya memahami para partisipan, pertanyaan kontekstual, dan observasi, yang umumnya memakan banyak sumber daya.

Baca Juga  Masuki Pasar Online to Offline (O2O), Berrybenka Dirikan Toko Permanen Pertama

Akan tetapi, untuk startup yang bergerak cepat, desainer perlu fleksibel dan kreatif memanfaatkan sumber daya serta waktu yang terbatas. Kamu harus bisa menjalankan riset secara lincah. Berikut ini beberapa cerita menarik tentang bagaimana kami menemukan cara-cara melakukan riset yang lincah.

Honestbee | Tree-Test

Ini adalah bagan tree-test yang membutuhkan partisipan dari berbagai latar budaya yang berbeda. Pada awalnya kami kesulitan merekrut partisipan yang tepat, dan merasa bahwa prosesnya akan makan banyak waktu serta biaya. Tapi kemudian kami sadar bahwa organisasi kami memiliki 38 kewarganegaraan. Sangat pas untuk dijadikan target uji coba.

Honestbee | Survey

Untuk memvalidasi reaksi partisipan terhadap desain, daripada buang waktu berhari-hari membuat prototipe, kami mengirim survei yang bisa dibuat dalam sepuluh menit, tapi sembilan puluh persen menyerupai user test sungguhan.

Buat prototipe dengan fidelity yang baik

Tidak ada orang yang mau menyajikan prototipe digital yang dibuat hanya dalam waktu beberapa jam. Akan tetapi, membuat prototipe dengan fidelity yang tepat bisa menghemat waktumu. Setelah melihat banyak pengguna yang bingung dalam berbagai sesi eksperimen, saya menyimpulkan bahwa prototipe dengan fidelity yang baik merupakan hal penting untuk menghasilkan user research yang efektif.

Di dalam artikel Paper Prototyping: The 10-Minute Practical Guide dari UXPin, Jerry Cao menunjukkan kekurangan-kekurangan paper prototyping:

Rancangan di atas kertas, seberapa pun detailnya, tidak akan bisa menggantikan pengalaman menggunakan produk digital secara langsung. Prototipe kertas membutuhkan imajinasi tinggi, dan dalam proses membayangkan seperti apa produk nantinya, ada banyak hal yang tidak tersampaikan. Apa yang dipikirkan pengguna mungkin berbeda dari apa yang kamu pikirkan, dan perbedaan ini tidak tersampaikan dalam feedback.

Invasion | Screenshot

InVision adalah contoh aplikasi yang bisa membuat prototipe hanya dengan beberapa klik

Terkadang bahkan membuat prototipe langsung dengan software bisa lebih cepat daripada membuatnya di atas kertas. Template seperti UI8 dan Sketch App Sources bisa kamu temui secara online. Tool ini memungkinkan kamu untuk mengintegrasikan foto atau konten yang kamu butuhkan.

Baca Juga  [Update] Kumpulan Startup Fintech di Indonesia

Kamu juga bisa memanfaatkan tool untuk membuat produk prototipe, seperti InVision, Flinto, atau PrincipleTool ini bisa membantumu membuat mockup yang tampak seperti produk sungguhan. Semua ini akan membantumu membuat prototipe yang solid secara cepat, dan mencegah pengguna kebingungan.

Undang rekan kerja yang relevan ke dalam sesi riset

Yang paling saya sukai dari user research adalah memahami hal-hal yang tadinya saya kira sudah saya pahami, tapi ternyata tidak. Saya pun mengundang para developer dan manajer produk ke sesi riset. Terkadang, developer bisa melihat sisi yang sebelumnya tidak terpikir olehmu. Dan manajer produk bisa memberi ide untuk fitur baru. Insight yang mereka berikan berasal dari sudut pandang dan latar belakang berbeda.

Saat kamu melakukan riset pengguna bersama tim, hasilnya tidak hanya memperkuat kolaborasi, tapi juga membantu anggota tim lainnya untuk fokus pada masalah utama yang dihadapi pengguna.

IN2 Innovation | Collaboration

Kolaborasi dari berbagai latar belakang akan mendorong inovasi. Sumber gambar: IN2 Innovation

Buat laporan yang mudah dipahami dan bermanfaat

Kamu sudah membuat rencana dengan baik, mengotori tanganmu dengan membuat setumpuk prototipe, dan menyelesaikan semua sesi user research. Langkah terakhir adalah fokus pada analisis dan membagikan datanya. Ini adalah tahap paling berharga dari risetmu. Seperti yang diucapkan Erika Hall dalam buku Just Enought Research:

Apa pun riset yang kamu lakukan dan bagaimana pun kamu menjadwalkannya, selalu patuhi enam langkah berikut: 1. Definisikan persoalan; 2. Pilih pendekatan yang tepat; 3. Buat rencana dan persiapan riset; 4. Kumpulkan data; 5. Analisis data; 6. Buat laporan hasil. Dengan latihan, kamu akan terbiasa melakukan tiga langkah pertama, sehingga kamu bisa fokus pada pengumpulan, analisis, dan presentasi data.

Kamu juga harus mendokumentasikan pekerjaanmu. Presentasi, laporan, atau email pun sebenarnya sudah cukup. Jangan membuat laporan setebal lima puluh halaman jika tidak diperlukan. Hindari membuat tulisan bertele-tele. Buatlah rangkuman tentang inti masalah, tindakan yang harus dilakukan, serta berbagai masukan.

Baca Juga  Bagaimana Saya Menemukan Partner Saat Masih Awam di Dunia Startup

Menjalankan user research di perusahaan startup selalu menantang karena tingginya tekanan dan permintaan. Akan tetapi user research sangat berguna untuk menunjukkan masalah-masalah utama, produk apa yang harus dikembangkan, serta menentukan audiens yang tepat.

Mudah-mudahan catatan singkat ini bisa membantu mereka yang masih baru di dunia desainer startup. Gunakan keahlianmu sebaik-baiknya untuk mendukung strategi startup yang berpusat pada kebutuhan pengguna.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Ayyub Mustofa sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Septa Mellina)

The post 5 Tip Melakukan User Research untuk Perusahaan Startup appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *