8 Fakta Menarik Sejarah Uber – Dari James Bond hingga Tweet Senilai Rp21 Triliun

Setiap startup punya “cerita indah” tentang bagaimana mereka bermula. Dan bagi layanan transportasi online Uber, kisah tersebut adalah pertemuan sang CEO Travis Kalanick dengan temannya Garrett Camp di kota Paris pada tahun 2008.

Dikisahkan kalau mereka berdua mengalami kesulitan untuk mencari taksi, padahal saat itu kondisi cuaca sangat dingin dan bersalju. Kejadian itu pun membuat mereka mendapat ide untuk membuat sebuah aplikasi yang memungkinkan kamu untuk memesan kendaraan dengan hanya menekan sebuah tombol.

Adegan itu sendiri memang benar-benar terjadi pada tahun 2008, namun ide awal untuk membuat aplikasi Uber sebenarnya telah muncul sebelum itu. Hal ini dinyatakan oleh seorang penulis bernama Brad Stone, yang telah mewawancarai banyak tokoh di balik berdirinya Uber, dan merangkumnya dalam buku yang berjudul The Upstarts.

Berikut ini adalah delapan hal menarik di balik kelahiran Uber yang diungkapkan Stone dalam buku tersebut.

Terinspirasi dari film James Bond

Uber James Bond Sony Ericsson

Pada pertengahan tahun 2008, seorang pengusaha asal Kanada yang bernama Garrett Camp tengah bersantai setelah menjual situs social bookmark StumbleUpon yang ia dirikan kepada eBay senilai US$75 juta (sekitar Rp1 triliun). Ia pun mengisi waktu luangnya dengan menonton sebuah film James Bond yang berjudul Casino Royale.

Di tengah film tersebut, ada adegan yang menarik perhatian Camp. Ketika James Bond tengah mengendarai mobil Ford Mondeo untuk mengejar musuhnya, sang agen rahasia pun menengok ke handphone Sony Ericsson yang ia miliki. Di layar handphone tersebut, kamu bisa melihat posisi mobil Ford Mondeo yang dikendarai Bond tengah mendekati lokasi musuh.

Sejak saat itu, Camp pun terinspirasi untuk bisa membuat aplikasi pemesanan mobil yang bisa menampilkan secara langsung lokasi mobil-mobil di sekitar kamu. Ia pun memilih nama Uber, yang menurutnya menunjukkan kesempurnaan. Ia mendaftarkan domain UberCab.com pada bulan Agustus 2008, dan mendirikan perusahaan bernama UberCab pada tanggal 17 November 2008.

Setahun sebelumnya, Apple pun telah meluncurkan iPhone yang dilengkapi dengan GPS. Camp semakin yakin kalau mimpinya bisa menjadi kenyataan.

“Garrett adalah orang yang menemukan hal ini! [Ketika melihat ide aplikasi tersebut] Saya ingin langsung bertepuk tangan dan memeluknya dalam waktu yang sama,” ujar Travis Kalanick.

Oscar Salazar, sang pengembang aplikasi pertama

Uber Oscar Salazar

Oscar Salazar, pengembang aplikasi pertama Uber (Sumber: BusinessInsider)

Pada bulan Desember 2008, Camp berniat untuk pergi ke sebuah konferensi teknologi di Paris yang bernama Le Web. Namun sebelum berangkat, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan temannya dari Universitas Calgary, yang bernama Oscar Salazar.

Camp pun meminta bantuan Salazar untuk membuatkan prototipe Uber. “Saya tidak tahu apakah perusahaan ini akan bernilai miliaran dolar. Tapi saya yakin kalau ide ini sendiri bernilai miliaran dolar,” tutur Salazar.

Baca Juga  Setelah Instagram, Facebook Kini Buat Fitur Tiruan Snapchat dalam WhatsApp

Saat itu, Salazar hanya mempunyai visa sebagai pelajar di Amerika Serikat, sehingga tidak bisa menerima bayaran secara tunai. Ia pun setuju untuk dibayar dengan sebagaian saham di Uber. Saat ini, saham yang ia miliki telah bernilai ratusan juta dolar (lebih dari Rp1,3 triliun).

Salazar kemudian memberikan tugas untuk membuat algoritme yang memasangkan pengguna dengan kendaraan terdekat kepada pasangan developer bernama Jose Uribe dan Zulma Rodriguez. Serupa dengan Salazar, Uribe dan Rodriguez pun mendapat saham di Uber yang saat ini telah bernilai jutaan dollar.

Saat itu, mereka berdua coba mengembangkan layanan pemesanan kendaraan lewat SMS dan situs desktop. Sedangkan untuk membuat aplikasi iOS, Salazar meminta bantuan kepada pengembang aplikasi Mob.ly.

Taplak meja restoran yang penuh angka

Uber Taplak Meja

Sesampainya Camp di Paris, ia pun bertemu dengan rekannya yang lain, yaitu Travis Kalanick. Pada saat itu, Kalanick pun tengah bersantai, menikmati uang yang ia dapat dari hasil penjualan layanan video streaming bernama Red Swoosh kepada Akamai. Pertemuan inilah yang kemudian dijadikan sejarah berdirinya Uber.

Camp dan Kalanick bertemu di sebuah restoran, dan dalam waktu singkat mereka pun mulai menulis catatan terkait biaya dan tingkat pemesanan kendaraan di taplak meja. “Ketika kami meninggalkan restoran tersebut, seluruh taplak meja telah dipenuhi dengan angka,” tutur Melody McCloskey, mantan pacar Camp yang turut hadir saat pertemuan tersebut.

Ide awal Camp untuk Uber adalah membeli mobil yang kemudian bisa digunakan bersama-sama oleh para pengguna. Namun Kalanick berpendapat kalau akan jauh lebih efisien jika Uber tidak mempunyai mobil, dan hanya membagikan aplikasi kepada para mitra pengemudi.

Di kemudian hari, Camp akhirnya setuju dengan ide Kalanick tersebut.

Merekrut CEO lewat Twitter

//platform.twitter.com/widgets.js

Hingga awal tahun 2010, Camp dan Kalanick sepakat kalau mereka hanya ingin berperan sebagai penasihat dan investor, serta tidak mau menjalankan Uber secara total. Mereka pun memutuskan untuk merekrut orang lain untuk menjalankan perusahaan tersebut.

Pada tanggal 5 Januari 2010, Kalanick membuat sebuah tweet yang berbunyi, “Mencari Product Manager/Business Bevelopment berjiwa entrepreneur yang handal untuk sebuah layanan berbasis lokasi. Belum diluncurkan, saham besar, dan beberapa orang besar terlibat. Ada saran?”

Seorang karyawan perusahaan elektronik General Electric berusia 27 tahun yang bernama Ryan Graves pun menjawab tweet tersebut. “Sebuah saran. [Kirim] email ke saya di graves.ryan[at]gmail.com.”

Kalanick pun tertarik dengan Graves. Demi menerima undangan Kalanick, Graves pun kabur dari pelatihan perusahaan yang sedang ia hadiri di New York. Dua minggu kemudian, Graves hijrah ke San Fransisco untuk bergabung dengan Uber.

Baca Juga  Fitur Baru GO-PAY Buat Pengguna Bisa Transfer Saldo ke Orang Lain

Keputusan yang tepat bagi Graves, karena saat ini kekayaannya telah mencapai US$1,58 miliar (sekitar Rp21 triliun) berkat bergabung dan sempat menjadi CEO bagi Uber.

Pada bulan Mei 2010, Mob.ly mengumumkan kalau mereka telah diakuisisi oleh Groupon. Uber pun harus memaksa perusahaan pengembang tersebut untuk menyelesaikan aplikasi mereka terlebih dahulu. Aplikasi Uber akhirnya resmi hadir di App Store pada minggu pertama bulan Juni 2010.

Sebuah email dari AngelList

AngelList | Screenshot

Setelah merampungkan aplikasi, tugas selanjutnya bagi Uber adalah mencari pendanaan. Camp dan Kalanick pun menghubungi pendiri jaringan angel investor AngelList, Naval Ravikant.

Pada tanggal 17 Juni 2010, Ravikant mengirim email kepada 165 investor yang tergabung di jaringan yang ia miliki.

“UberCab adalah pengemudi pribadi bagi semua orang. Kami mengatasi masalah kelangkaan taksi dengan mobil pribadi yang bisa kamu pesan dengan iPhone dan SMS.”

Email tersebut menyebutkan Camp sebagai founder dan investor, Kalanick sebagai penasihat besar dan akan menjadi investor pada pendanaan tahap awal, Tim Ferris sebagai penasihat dan investor, serta Graves sebagai CEO.

Sebanyak 150 investor tidak menjawab email tersebut, bahkan seorang investor memutuskan untuk berhenti berlangganan email dari Ravikant. Ron Conway, investor dari Google, Facebook, dan Twitter, menyatakan kalau Uber pasti harus “bertarung” di setiap kota dan menolak tawaran tersebut.

Dave McClure, pendiri 500 Startups, mengatakan kalau ia tidak cukup mengenal Graves, dan menolak untuk berinvestasi.

Namun beberapa angel investor lain kemudian setuju untuk memberi pendanaan kepada Uber. First Round Capital memimpin pendanaan tersebut dengan dana US$600 ribu (sekitar Rp8 miliar).

Ravikant sendiri sejak awal berniat untuk berinvestasi US$100 ribu (sekitar Rp1,3 miliar) untuk Uber, dan menunggu hingga akhir pendanaan. Sayangnya ia terlambat, karena Uber akhirnya berhasil mengumpulkan dana yang mereka butuhkan dengan cepat.

Namun Uber akhirnya memberi kesempatan kepada Ravikant untuk berinvestasi US$25 ribu (sekitar Rp333 juta). Saat ini, dana tersebut telah bernilai lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,3 triliun).

Travis Kalanick menjadi CEO

Uber Travis Kalanick

Travis Kalanick, CEO Uber

Akhir tahun 2010 merupakan saat yang spesial untuk Uber. Di bulan Oktober mereka resmi berganti nama dari UberCap menjadi Uber. Pada bulan November, aplikasi mereka pun hadir di sistem operasi Android.

Di saat yang sama, Kalanick akhirnya menyetujui permintaan beberapa pihak untuk menjadi CEO. Ia pun bernegoisasi dengan para pemegang saham untuk menaikkan sahamnya dari dua belas persen menjadi 23 persen, yang kemudian disetujui.

Kalanick menyampaikan keputusan itu kepada CEO saat itu Ryan Graves. Graves pun mundur dan menjadi General Manager. Sekarang ia menempati posisi sebagai Senior Vice President untuk Global Operations di Uber. Perubahan posisi tersebut ditandatangani pada tanggal 23 November 2010.

Baca Juga  COO MBiz Bicara Strategi Bangun Startup dan Pandangannya terhadap Sektor B2B

Penerapan Surge Pricing

Uber Surge Pricing

Uber sadar kalau banyak pengguna yang gagal mendapat kendaraan pada saat kondisi ramai. Karena itu, pada malam tahun baru 2011, mereka pun melakukan uji coba dengan menaikkan harga dua kali lipat, agar ada lebih banyak pengemudi yang beroperasi. Langkah ini pun terbukti sukses.

Meski ada beberapa orang di dalam dan luar perusahaan yang menentang strategi tersebut, namun Uber tetap mempertahankannya. Mereka pun menyebutnya Surge Pricing.

Sepanjang tahun 2011, mereka beberapa kali melakukan uji coba untuk menaikkan harga secara manual. Namun Kalanick kemudian memutuskan kalau kenaikan harga tersebut seharusnya terjadi secara otomatis, sesuai dengan kondisi pasar. Fitur Surge Pricing otomatis tersebut pun mereka uji coba pada malam tahun baru 2012.

Akhirnya mengikuti Lyft dan Sidecar

Lyft

Mobil berkumis ala Lyft

Hingga tahun 2012, Uber hanya mengizinkan pengemudi taksi dan pengemudi yang mempunyai lisensi untuk bergabung dengan mereka. Pada saat itu, mereka belum membolehkan pengemudi biasa untuk bergabung, seperti yang kita lihat saat ini.

Startup yang pertama kali merekrut pengemudi biasa untuk bergabung dengan layanan transportasi online di Amerika Serikat adalah Sidecar, yang kemudian diikuti oleh Lyft. Mereka pun berhasil mengambil sebagian pasar yang sebelumnya dikuasai oleh Uber.

Sadar akan hal tersebut, Kalanick memutuskan untuk menunggu legalitas dari layanan Sidecar dan Lyft. Ia khawatir kalau ia ikut merekrut pengemudi yang tidak berlisensi, pemerintah bisa mengenakan denda dengan jumlah yang besar kepada Uber.

Namun pada bulan Januari 2013, pihak pemerintah justru mengizinkan Sidecar dan Lyft untuk beroperasi. Para startup tersebut hanya diharuskan memeriksa catatan kriminal para pengemudi, dan memastikan para pengemudi tersebut mempunyai asuransi.

Tidak tinggal diam, Uber pun turut mengubah layanan bertarif murah UberX dan mengizinkan para pengemudi biasa untuk bergabung. Pada tahun 2016, Sidecar akhirnya menghentikan layanan mereka setelah kalah bersaing dengan Uber dan Lyft.


Setelah kejadian-kejadian di atas, kita bisa melihat bagaimana Uber harus menghadapi rangkaian demonstrasi transportasi konvensional di berbagai negara, rangkaian pendanaan bernominal luar biasa besar, hingga tuduhan pelecehan seksual yang terjadi pada karyawan mereka.

Menarik untuk ditunggu bagaimana kelanjutan perjalanan startup yang terinspirasi dari sebuah film James Bond ini. Meski Uber kini telah menjadi perusahaan besar, dengan valuasi yang bisa digunakan untuk membuat hampir lima ratus film James Bond.

(Diedit oleh Mohammad Fahmi)

The post 8 Fakta Menarik Sejarah Uber – Dari James Bond hingga Tweet Senilai Rp21 Triliun appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *