8 Tip Sukses Menjalankan Startup dari para Karyawan Perintis Grab

[ad_1]

Jika kamu ingin tahu jatuh bangun sebuah perusahaan, maka bertanyalah pada karyawan yang bergabung sejak hari pertama. Itulah yang Grab lakukan baru-baru ini. Startup transportasi on-demand ini mengumpulkan para karyawan perintis untuk berbagi pengalaman mereka.

Grab sendiri mengawali bisnisnya di sebuah gudang kecil di Malaysia pada tahun 2012. Kini startup tersebut telah bertransformasi dan menyandang status unicorn. Bisnisnya pun merambah ke negara-negara lain seperti Singapura, Thailand, Indonesia, Vietnam, dan Filipina.

Lalu, pelajaran apa saja yang bisa diambil dari para karyawan perintis ini?

Bersiaplah untuk sibuk

Menjalankan bisnis startup mungkin terdengar keren, namun bersiaplah untuk menghadapi beragam kesibukan yang melelahkan. Hal ini sebenarnya umum terjadi di perusahaan-perusahaan rintisan baru. Deputy Country Manager Grab Indonesia Hong Eu Gene menceritakan pengalamannya saat Grab masih berkantor di sebuah gudang kecil.

“Untuk menghemat biaya operasional, kami memilih penerbangan murah di tengah malam, bahkan kami berbagi tempat tidur dengan rekan-rekan kantor,” kata Hong Eu Gene.

Dalam situasi seperti ini, yang kamu perlukan adalah tekad yang kuat dan passion untuk mencapai tujuan.

“Kami seringkali mengambil penerbangan pukul 1 pagi ke Manila dan langsung menyerbu taksi saat kami mendarat. Saya ingat bagaimana CEO Anthony Tan meminta saya untuk mengajukan proposal peluncuran GrabTaxi di Indonesia pada pukul 10:30 malam. Saya mengajukan proposal delapan jam kemudian, dan terbang ke Jakarta keesokan harinya untuk memulai perekrutan dan mencari lokasi kantor. Kami meluncurkan layanan Grab hanya dalam waktu enam minggu,” kata Eu Gene.

Raih setiap peluang

Bergabung di sebuah startup seringkali menuntut kamu untuk mengorbankan stabilitas keuangan. Namun hal ini menjadi sepadan ketika apa yang kamu lakukan bermanfaat bagi masyarakat.

“Peluang” inilah yang mendorong Lim Kell Jay untuk meninggalkan karier yang telah ia bangun sembilan tahun lamanya di sebuah perusahaan konsultan manajemen. Kini  ia memimpin operasional Grab di Singapura. Ia mengakui dirinya ketakutan saat mengambil keputusan itu.

“Saya sangat takut saat itu. Beberapa bulan pertama saya menanyakan kembali kepada diri sendiri, apa yang telah saya lakukan hingga terperangkap dalam kesulitan ini. Namun, saya pikir, kesempatan untuk membangun perusahaan dari nol tidak datang setiap saat,” kata Lim Kell Jay.

“Sadarilah peluang yang datang menghampirimu. Saat kamu merasa yakin, jangan ragu untuk mengambil risiko,” ia menambahkan.

Jika kamu tidak paham, kamu tak akan pernah bisa mengembangkannya

Hindari sikap gegabah dalam mengambil keputusan sebelum kamu benar-benar paham pasar yang akan kamu masuki. Ibaratnya, kamu seperti merekrut pekerja bangunan tanpa tahu bangunan apa yang diperlukan di kota tersebut.

Baca Juga  Tingkat Perkembangan Pasar Game Mobile Indonesia Tiga Kali Lipat Amerika Serikat

Jadi, galilah berbagai informasi mengenai pasar yang akan kamu tuju, sehingga kamu dapat membangun sesuatu yang bernilai.

Aaron Gill, Head of Business Solutions Grab, berkata bahwa timnya rutin mengunjungi pusat pemesanan taksi di Kuala Lumpur untuk memahami proses pemesanan taksi, sebelum membangun aplikasi mobile mereka.

“Salah satu anggota tim kami bekerja di sana selama enam bulan. Kami mempelajari bagaimana pelanggan memesan taksi dan menunggu hingga mendapat layanan tersebut. Proses ini terkadang memakan waktu hingga tiga puluh menit. Pengalaman berharga ini membantu kami memahami produk dengan lebih baik,” katanya.

Gunakan kekuatanmu

“Di awal, sejumlah perusahaan besar mengatakan bahwa kami akan bangkrut dalam lima bulan,” kenang Adelene Foo, Regional Head untuk layanan roda dua Grab.

Menurut Adelene, ketika menghadapi kompetitor yang lebih besar, triknya adalah menjadi peka terhadap kekuatanmu agar kamu bisa memberikan nilai tambah pada dirimu sendiri. Kemudian, hadapi kompetitor dengan caramu.

“Beberapa kompetitor kami mempunyai dana yang lebih besar. Jadi, kami memilih untuk melihat aspek lain selain materi. Kami pun fokus membangun hubungan dengan para mitra pengemudi kami. Mitra pengemudi yang bahagia adalah kunci kepuasan pelanggan,” tambahnya.

Selesaikan masalah tidak hanya dengan pikiran, tapi juga hati

Terkadang, solusi yang terbaik justru datang dari hati. Misalnya, memberikan usaha terbaik untuk rekanan kamu. Hal ini memang sulit untuk dinilai, tapi langkah ini sangat berharga untuk memenangkan hati para pengguna awal.

Ketika Grab memulai operasinya di Filipina, tidak semua mitra pengemudi memiliki smartphone. “Kami mengakali hal ini dengan menghubungi satu per satu mitra pengemudi dan mencocokkan mereka dengan para pelanggan secara manual. Hal ini menunjukkan kepada para pengemudi bahwa kami berusaha untuk memberikan mereka pekerjaan,” kata Rose Perea, Supervisor Customer Support.

Baca Juga  Bagaimana Humas Bisa Berperan dalam Memaksimalkan Bisnis E-Commerce

“Kami memberikan ponsel cerdas bagi para mitra pengemudi dan membagikan makanan sebagai insentif. Mereka sangat menghargai tindakan-tindakan kecil ini.”

Pentingnya interaksi langsung

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Kantor - Terlalu Banyak Bergosip

Sentuhan manusia bukan hanya sesuatu yang baik, tapi juga bisa menjadi kekuatan untuk bisnismu. Kode tercanggih sekalipun tidak dapat menggantikan empati dan emosi—dua hal penting untuk bisnis yang berorientasi pada manusia. Sering kali orang-orang hanya ingin berhubungan interaksi langsung.

Desmond Ng, Head of Partner Quality Grab Singapura, berkata bahwa timnya mengalokasikan waktu khusus untuk berinteraksi langsung dengan para pengendara taksi. Hal ini dilakukan demi memperoleh kepercayaan pengemudi sekaligus menyalip langkah kompetitor.

“Tim saya mengunjungi Bandara Changi dan food court Lavender pada pukul 3 pagi, hanya untuk memperkenalkan para pengemudi kepada aplikasi Grab,” katanya.

“Saya sendiri sering menghabiskan akhir pekan untuk mengunjungi pernikahan mereka, pesta ulang tahun anak mereka, bahkan mengunjungi mereka di rumah sakit. Saya juga ngopi bareng mereka setiap hari Rabu. Itulah cara kami mendapatkan kepercayaan dan dukungan para pengemudi. Setelah kami mendominasi pasokan taksi, kompetitor kami tidak memiliki kesempatan.”

Biasakan mengambil risiko

Kamu tidak akan memperoleh apapun jika tak berani mengambil risiko. Setiap ide yang muncul selalu disertai peluang gagal. Tapi  seimbangkanlah hal ini dengan risiko yang muncul ketika kamu tidak mengambil tindakan.

“Keputusan untuk meluncurkan layanan penyewaan kendaraan pribadi di Thailand ibarat sebuah taruhan. Proyek ini bisa gagal. Ketika saya bertanya ke tim saya apakah mereka mengerti apa yang mereka hadapi. Tanggapan mereka: satu-satunya risiko yang tidak dapat mereka ambil adalah menunda peluncuran dan kalah dalam kompetisi.”

“Pada malam yang sama kami pergi ke Ikea untuk membeli perabotan untuk kantor kami yang kosong. Kami menggunakan uang kami sendiri.” kata Vichakorn Varavarn Na Ayudhaya, Head of New Verticals untuk Grab Thailand

Baca Juga  Startup Penyedia Layanan Helpdesk Bornevia Akan Hentikan Layanan pada April 2017

Meninggalkan zona nyaman adalah sebuah keharusan jika kamu ingin bertumbuh. Tantanglah diri kamu dan temukanlah berbagai kemungkinan baru, termasuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak bermanfaat untuk bisnis kamu, sehingga kamu dapat terus maju.

Teman kantor yang hebat akan selalu membantu

kurio pentingnya kerja sama featured image

Kamu tidak akan dapat mencapai visimu tanpa ada kerja sama tim. Bangun lingkungan yang saling mendukung, sehingga setiap anggota tim merasa bertanggung jawab atas masalah yang sedang dihadapi.

Budaya ini akan menjaga semangat tim, bahkan ketika situasi sedang sulit sekalipun. Dao Tuan Dung dari Grab Vietnam berbagi cerita terkait dengan hal ini.

“Saat malam Natal, tim pemasaran Vietnam harus membungkus ratusan hadiah untuk suatu acara. Pada jam 5 sore, semua orang sudah kelelahan. Pada saat yang sama, tim operasional kami datang dan menawarkan bantuan. Kami tahu sebagian besar dari mereka ingin pulang ke rumah untuk merayakan malam Natal. Tapi mereka justru “mencari-cari alasan”, seperti jalanan yang macet. Tujuannya agar mereka bisa ikut membantu.”

“Kami menyelesaikan semuanya pada jam 8 malam. Bahkan kami masih punya waktu untuk menyelenggarakan perayaan kecil di kantor. Ini mengajarkan saya bahwa terkadang kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Jadi, berbagi bebanlah dengan tim yang kamu cintai.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Blog Grab. Isi di dalamnya telah disesuaikan dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diterjemahkan oleh Dewi Nuraini. Diedit oleh Septa Mellina)

The post 8 Tip Sukses Menjalankan Startup dari para Karyawan Perintis Grab appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *