Alasan di Balik Mengapa Transaksi Jual Beli Properti Belum Bisa secara Online

[ad_1]

Dalam hal membeli properti, keluarga masih menjadi sumber informasi utama ketika seseorang mencari referensi. Rekomendasi yang diberikan keluarga biasanya baru ditelusuri kebenarannya melalui berbagai media, baik offline maupun online.

Hal ini disampaikan oleh Hardi Saputra selaku Head of Data and Product Rumah123. Menurutnya, cara seseorang menelusuri informasi properti saat ini sudah banyak mengalami pergeseran. Transisi pencarian informasi dari media offline ke online sudah cukup tinggi. “Media cetak sudah kalah jauh,” ujar Hardi ketika ditemui belum lama ini.

Meski tren mencari informasi properti sudah banyak mengarah ke media online, hal itu tidak dibarengi dengan proses transaksinya. Saat ini, kata Hardi, belum ada transaksi jual beli properti di Indonesia yang dilakukan secara online.

Transaksi E-commerce | Ilustrasi

Menurutnya, di luar negeri juga belum ada sistem escrow alias rekening bersama yang mendukung pembayaran transaksi properti secara online layaknya proses jual beli di marketplace.

Hingga sepuluh tahun ke depan, Hardi menilai transaksi properti belum bisa dilakukan secara online karena masih ada beberapa kendala yang perlu dibenahi. Berikut beberapa kendala mengapa sistem escrow belum bisa diterapkan pada jual beli properti.

Badan Hukum untuk Startup | Ilustrasi

Faktor legalitas

Ketika melakukan pembelian properti, seseorang harus mengurus faktor hukum atau legalitasnya. Dalam proses ini, ada banyak dokumen dan tahapan yang harus dilalui.

Selain banyak proses yang harus dilewati, transaksi jual beli properti juga melibatkan banyak orang di bidang hukum. Hal ini juga yang membuat proses jual beli properti belum bisa dilakukan secara online.

“Fase-fase itu masih belum bisa ditransfer ke online. Ke depan, kalau memang dari semua proses legalitas, administrasi di bidang hukum, bisa online, kemungkinan besar (proses transaksi) bisa online,” kata Hardi. “Cuma kendala utamanya itu, legalitas dalam pembelian rumah masih complicated. Administrasi (dalam transaksi properti) yang belum sepenuhnya online masih banyak banget.”

tanda tangan digital|ilustrasi

Sumber: Ascertia

Belum mendukung tanda tangan elektronik

Faktor lain yang membuat proses transaksi jual beli properti belum bisa dilakukan secara online yakni karena kondisinya memang belum mendukung.

Baca Juga  Kolaborasi dengan Grand Indonesia, Pomona Uji Coba Fitur Baru AskMona

Hardi mencontohkan, dalam proses jual beli properti saat ini, belum mendukung adanya tanda tangan elektronik. Pembeli dan penjual masih harus membubuhkan tanda tangannya langsung alias tanda tangan basah. Selain itu, biasanya ada cap yang menandakan legalitas transaksi tersebut.

“Karena memang kondisinya belum mendukung. Seperti perlu tanda tangan langsung, mereka belum terima tanda tangan elektronik. Itu kan sudah ribet banget. Belum lagi harus ada cap. Belum tentu bisa diubah jadi elektronik semua saat ini,” kata Hardi.

Ilustrasi Risiko

Risiko tinggi

Membeli properti memang tidak sama seperti membeli smartphone, apalagi kacang goreng. Tingginya nilai properti juga menjadi faktor lain mengapa sistem escrow belum bisa diterapkan dalam jual beli properti.

“Saya rasa sampai sepuluh tahun ke depan belum ada transaksi langsung online. Payment gateway belum mungkin. Properti ini kita bilangnya produk bernilai tinggi, yang kalau mau beli pertimbangannya lama banget. Risikonya tinggi. Belum ada yang beli secara online,” papar Hardi.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

The post Alasan di Balik Mengapa Transaksi Jual Beli Properti Belum Bisa secara Online appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *