Alasan Sebelum Usia 20-an Kamu Harus Memikirkan Urusan Materi, Biar Paham Makna Mandiri

[ad_1]

Orang bilang usia belasan itu usia untuk mencari jati diri. Sampai-sampai dicap masih terlalu dini juga untuk serius memikirkan materi. Nggak heran kalau masih banyak dari kamu yang sudah usia 17 tahun ke atas atau akan beranjak ke 20-an, tapi masih saja gampang sekali meminta uang ke orangtua. Sedikit-sedikit, Pak/Bu minta uang dong buat ini dan itu.

Padahal sebenarnya di umur sekian kamu sudah bisa memikirkan urusan materi dirimu sendiri. Setidaknya kamu bisa mengatur uang yang diberikan orangtua dengan sebaik-baiknya. Membuatmu tak harus minta berkali-kali, tapi bagaimana caranya uang yang diberikan dalam satu minggu atau bulan itu cukup sampai waktu yang ditentukan. Karena ukuran mandiri atau tidaknya kamu pun dilihat dari caramu mengatur uang. Ada alasan yang Hipwee Motivasi uraikan kali ini juga yang harus kamu pahami.

1. Karena mencari uang sendiri itu tak semudah kamu meminta ke ayah atau ibumu ini

cari uang itu tak mudah

cari uang itu tak mudah via unsplash.com

Dari usia 17 tahun harusnya kamu sudah paham, jika urusan mencari rezeki atau uang itu bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang harus kamu lewati. Mulai dari mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan atau pendidikanmu, memilih antara kerja keras atau kerja cerdas, menghadapi segala macam tanggung jawab juga sikap atasan, sampai bagaimana mengendalikan rasa bosan. Bahkan ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata dalam setiap pekerjaan.

Sementara kamu di umur yang sudah hampir berkepala dua masih dengan mudahnya meminta uang ke orangtua. Kadang kalau tak dituruti kamu ngambek, bahkan tega mendumel entah pelit lah, nggak sayang anak lah. Coba kamu pikirkan lagi bagaimana perjuangan mereka untuk bisa mencukupi kebutuhanmu. Setiap hari dari pagi sampai sore kadang juga malam mereka masih bergulat dengan pekerjaannya. Rasa-rasa lelah atau bosan mereka kesampingkan. Coba kamu pikirkan lagi!

Baca Juga  Jadilah Jomblo yang Jujur dan Budiman, Bukan Sok-Sok'an Dengan Kalimat 'Aku Kuat, Aku Tegar!'

2. Semakin ke depan, kebutuhanmu semakin besar, dan kamu tak bisa hanya mengandalkan harta orangtua

Kebutuhanmu semakin lama semakin besar

Kebutuhanmu semakin lama semakin besar via unsplash.com

Kebutuhanmu saat kecil dengan sekarang saat sudah dewasa tak lagi sama. Dulu waktu kecil kamu tak paham yang namanya nongkrong, jalan-jalan atau berbelaja ini itu dengan teman-temanmu. Dulu waktu kecil kamu tak repot memikirkan pulsa HP atau internet, tak peduli juga dengan gawai-gawai mahal. Bahkan dulu biaya pendidikanmu tak semahal ketika kuliah, yang kalau jauh dari rumah masih harus tambah biaya kos, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari.

Kedepannya lagi selepas kuliah, kebutuhan pribadimu akan semakin bertambah. Dan kamu tak bisa terus mengandalkan harta yang dimiliki orangtua. Kamu harus mulai memikirkan pekerjaan apa yang akan dilakoni olehmu. Pikirkan juga kebutuhan pribadimu sendiri, termasuk niatmu ingin membangun keluarga kecil nantinya.

3. Sukses memang tak selalu materi, tapi paling tidak kemapanan membuat hidupmu lebih mudah dijalani

Udah cukup mapan ini, mau ngapa-ngapain juga tenang

Udah cukup mapan ini, mau ngapa-ngapain juga tenang via unsplash.com

Ada masanya kamu jadi orang yang sangat idealis yang hanya ingin mengejar semua impian. Sebab bahagia dan sukses buatmu tak terpaku pada materi. Tapi ada saatnya juga kamu jadi orang yang lebih realistis menghadapi hidup. Kamu akan sampai di satu titik yang buatmu tersadar, bahwa tak semua mimpi bisa mencukupi kebutuhan hidupmu. Dalam arti lain, kamu harus membuat mimpimu lebih realistis.

Mimpi jadi penulis, bagaimana caranya supaya tulisanmu ini menghasilkan uang. Mimpi keliling dunia jangan sampai ini justru membuatmu tak punya apa-apa dalam bentuk materi. Kamu harusnya bisa membawa mimpimu ke arah kemapanan, sebab hidup sukses dengan keidealisan saja bukan jaminan untuk membuat semuanya mudah dijalani.

Baca Juga  Biar Nyalimu Tak Langsung Ciut, 5 Kenyataan Dunia Kerja Ini Perlu Kamu Tahu

4. Karena paham dengan keuangan sendiri, membuat kamu sadar diri dan tak mengikuti gaya hidup yang berlebih

Tak perlu lihat orang lain, lihat saja kondisi keunganmu sendiri

Tak perlu lihat orang lain, lihat saja kondisi keunganmu sendiri via unsplash.com

Jangan sampai kamu jadi orang yang mengikuti pribahasa, besar pasak daripada tiang. Sebab bukan bahagia yang kamu dapat tapi justru ketidakpuasan serta kesulitan-kesulitan lain. Jadi memang harus sejak dini kamu paham dengan kondisi keuanganmu sendiri. Kamu tak hanya tahu mana kebutuhan primer, sekunder ataupun tersier untuk dirimu. Tapi juga paham mana yang harus didahulukan, dan mana yang harus dikesampingkan.

Biarlah orang dengan caranya sendiri menjalani kehidupannya. Sementara kamu tak perlu mengikuti gaya hidup orang-orang yang ada di sekelilingmu. Sebab belum tentu gaya hidup itu sesuai dengan karakter dirimu atau isi dompetmu sendiri.

Jangan juga sampai jadi orang yang lupa bersyukur. Sudah dipenuhi kebutuhannya tapi masih berharap yang lebih lagi.

5. Bagaimana pun juga kelak kamu yang ganti mengurus orangtua, mencukupi segala kebutuhan mereka

Kamu yang ganti merawat dan mencukupi kebutuhan ayah beserta iumu

Kamu yang ganti merawat dan mencukupi kebutuhan ayah beserta iumu via www.lds.org

Setelah bertahun-tahun kerja keras, masa tua adalah masa di mana kedua orangtuamu menikmati hasil yang selama ini diperjuangkan olehnya. Apalagi kalau bukan dirimu, anak yang sedari dulu jadi harapannya. Kamu boleh punya banyak mimpi, tak masalah juga kalau itu tak sejalan dengan keinginan orangtua. Tapi kamu tetap harus buktikan ke mereka kalau kamu tak hanya bisa sukses, tapi juga mencukupi segala kebutuhan dan keinginan orangtuamu dari mimpimu ini.

Orangtua mana yang tak berharap anaknya bisa memberangkatkan mereka pergi haji. Atau tak muluk-muluk kamu cukup merawat mereka dengan tenang, membiarkan mereka beristirahat di hari tuanya.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *