Dalam Cintaku yang Diam dan Lantunan Do’a yang Aku Panjatkan Tiap Malam

[ad_1]

Tentangmu, aku adalah riuh yang senyap

Ketika senja tiba, aku acap berdiri di dermaga.  Ikut menatap yang pergi, tersenyum pada yang datang.  Di sini aku mengerti yang datang tak selamanya tinggal, dan yang pergi bukan tak kembali. Aku jatuh cinta pada langit dermaga tua kota ini. Disini aku pernah melihatmu pergi, dan masih menunggumu kembali. Masih dengan mengeja namamu yang dilukis langit dengan warna jingga terang yang terasa menyakiti. Aku terkadang meneriaki burung yang terbang melintas.  Kadang aku berucap rindu pada debur ombak yang terkesiap. Ada yang riuh didadaku walau nyata ia senyap dari bibirku.

Tentangmu, aku adalah keramaian yang bisu.

Di senyap malam, ditemani rintik gerimis yang deras mencurahkan kata-kata puja pada tanah hingga basah. Aku masih bisu, diantara derap rasa yang turut menghujani rindu. Tak ada yang ku ungkap, pada desah angin pun tidak. Atas berontakan sepi yang tak juga berteman. Yah..aku ramai dengan hatiku sendiri, sampai gaduh. Namun seucap kata pun tak ada keluhku untukmu yang jauh.

Tentangmu, aku adalah cinta yang diam.

Setiap pagi pada hangatnya matahari, sejuknya embun, dan riuhnya perasaan, aku kerap menata huruf-huruf namamu di sisi mentari. Ya, dilangit sana. Mewarnainya dengan cerah pelangi. Menjaganya indah dimataku. Hari ini, esok dan nanti. Karena,

Tentangmu, aku adalah harap yang mendoa.

“Pada setiap jarak yag kau bentangkan, menurutmu, masihkah kita punya waktu?”

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Baca Juga  Film Flying Colors, Mengajarkan Kita Untuk Terus Berjuang Meski Sempat Diremehkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *