Fenomena Perempuan yang ‘Menolak’ Untuk Menikah dan Berkeluarga. Sebenarnya, Apa Ya Alasannya?

Ada banyak sekali kegelisahan yang saya rasakan mengenai semua isu tentang perempuan. Tapi biasanya, kegelisahan-kegelisahan itu hanya saya pendam sendiri, atau kalaupun saya curhat, tetap curhatnya ke diri sendiri. Mengapa? Ada banyak alasannya. Namun alasan yang paling utama adalah karena saya seringkali merasa, bahwa pemikiran atau hal yang ingin saya curhatkan ini merupakan hal yang (kalau orang Jawa bilang) ora elok, atau tabu, atau saru, atau melanggar kodrat, atau jorok, atau memalukan, atau, atau, atau memang saya saja yang terlalu berpikir berlebihan.

Lalu mengapa sekarang saya mau curhat dengan menulis? Sekali lagi, karena saya belum menemukan orang yang ‘cocok’ untuk diajak curhat soal ini, sedang ‘monster’ dalam diri saya terus-menerus memberontak, ingin pemikirannya diketahui orang. Makanya mau tidak mau, saya nulis saja.

Ya, isu yang mau saya angkat adalah mengenai pernikahan. Atau lebih tepatnya tentang pilihan untuk tidak menikah. Yang dilihat dari kaca mata perempuan dan penilaian masyarakat kepada kaum mereka.

Menikah memang menjadi isu yang paling asyik untuk diulik dari segi mana saja. Dari perspektif siapa saja. Tapi sayangnya, di sini mungkin pernikahan akan saya bahas sebagai sesuatu yang tidak selamanya ‘indah’.

Kalau seseorang, atau perempuan memutuskan menikah di umur tertentu, itu memang merupakan sesuatu yang wajar. Terlepas dari terpenuhi atau tidaknya target menikah yang sudah direncanakan, karena itu sudah menjadi kehendak yang di atas. Tapi, bagaimana kalau, perempuan, dengan kesadaran pribadi, memutuskan untuk, tidak menikah?

Jadi menikah itu sebuah keharusan, atau pilihan?

Saya tidak berbicara tentang yang belum kunjung dilamar, padahal sudah merencanakan pernikahan impian lho yaa (kemudian baper), tetapi tentang seorang perempuan yang memang memutuskan untuk tidak mau menikah. Bukan juga karena tuntutan kerohanian (re: biarawati), tetapi memang pure karena prinsip hidup, apapun alasan dan sebabnya. Apakah hal itu salah?

Baca Juga  8 Ungkapan Minta Izin Ke Kakak Buat Nikah Lebih Dulu, Bikin Sedih Dan Sungkan Jadi Satu

Di luar sana, apalagi sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang bisa dipelajari, tidak hanya oleh laki-laki saja tetapi juga perempuan, membuat lambat laun derajat perempuan yang dulunya sering disebut dengan ‘konco wingking’ ini perlahan-lahan tergeser, hingga dianggap sejajar dengan laki-laki. Banyak perempuan kemudian menjadi sangat mandiri dan sama sekali tidak tergantung lagi dengan laki-laki.

Kemudian, apakah MEREKA SALAH? Ataukah MEREKA MELAWAN KODRAT?

Di sini, saya sama sekali tidak mau menggurui. Apalagi menjadi hakim yang memutuskan mana pilihan yang benar, mana yang salah jalan. Saya hanya ingin menjadi seorang perempuan yang mau membuka mata dan telinga atas realitas-realitas yang memang banyak terjadi di tengah masyarakat kita.

Namun menurut saya, ‘keperempuanan’ seseorang tidak bisa hanya dilihat dari satu hal saja. Semua orang yang berjenis kelamin wanita harus diperlakukan sama. Tidak peduli apakah kamu berambut panjang atau pendek, feminim atau tomboy, perawan atau tidak, punya rahim atau tidak, dan mau menikah atau tidak.

Semua perempuan harus diperlakukan seperti perempuan, apapun pilihan yang mereka ambil dalam hidupnya.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *