Gogobli Coba Pecahkan Masalah Distribusi di Ranah Kesehatan dan Kecantikan

E-commerce untuk produk kesehatan dan kecantikan Gogobli hari ini resmi diperkenalkan ke publik. Saat ini, Gogobli fokus melayani empat kategori produk, yaitu suplemen dan vitamin, ragam jamu, produk herbal Cina, dan produk kecantikan.

Dalam kesempatan yang sama, Gogobli juga mengumumkan pihaknya telah meraih pendanaan pra-seri A. Pendanaan ini dipimpin oleh perusahaan private equity asal Malaysia, OSK Ventures International Berhad (OSKVI). Tidak disebutkan dengan pasti nominal dana yang disuntikkan ke Gogobli.

Startup ini didirikan oleh Halim H. Beliau, yang tak lain adalah pemilik PT Biomed, perusahaan distributor suplemen kesehatan yang telah berdiri di Indonesia sejak tahun 2002. Sebelum mendirikan Biomed, Halim telah lebih dulu terjun ke industri kesehatan dan kecantikan.

Memotong rantai distribusi

Memiliki pengalaman selama lebih dari dua puluh tahun di industri kesehatan dan kecantikan, Halim terdorong untuk menciptakan sebuah solusi untuk menyelesaikan permasalahan yang kerap ditemui di ranah tersebut, salah satunya adalah distribusi.

Menurut Halim, distribusi produk kesehatan dan kecantikan di Indonesia belum merata dengan baik. Masih ada toko-toko kecil yang terlewat dari perhatian para sales produk. Selain itu, penagihan ke toko-toko kecil juga dinilai cukup memakan waktu para sales. 

Gogobli | Screenshot 1

Halaman utama Gogobli

Untuk itu, Gogobli mencoba menghubungkan konsumen, toko atau retail, dan Principal atau penyedia produk. Dengan begitu, alur distribusi menjadi lebih sederhana dan toko-toko kecil pun dapat memenuhi persediaan tanpa harus menunggu sales.

Tidak hanya melayani pembelian produk kesehatan dan kecantikan untuk B2C (Business to Consumer), startup ini juga melayani pembelian untuk B2B (Business to Business).

Produk yang didapatkan dari Principal nantinya akan didistribusikan ke Gogobli. Kemudian, Gogobli langsung mengirimkannya ke toko-toko yang ingin menjual kembali produk-produk tersebut, maupun ke konsumen.

Baca Juga  8 Fakta Menarik Sejarah Airbnb – “Malaikat” Pemberi Uang hingga Penjualan Sereal

Untuk saat ini, pemesanan B2B bisa dilakukan melalui aplikasi mobile Gogobli yang tersedia untuk platform Android. Sementara itu, pemesanan B2C bisa dilakukan di situs Gogobli.

Hasil riset selama enam tahun

Walaupun baru diluncurkan hari ini, Gogobli sebetulnya telah mulai beroperasi sejak Mei tahun lalu. Saat itu, startup ini masih dalam tahap beta testing.

“Ini konsep baru, kami harus betul-betul yakin bahwa konsep ini benar-benar berjalan. Sehingga, setelah riset selama enam tahun, kami harus jalankan lagi dalam beta testing. Setelah meramu formula yang pas, kami siap dengan pendanaan untuk meningkatkan bisnis dan mencapai target kami,” jelas Joe Hansen, COO Gogobli.

Halim terlebih dahulu melakukan penelitian selama enam tahun, baru dua tahun kemudian Joe bergabung. Mereka melakukan berbagai cara dalam riset tersebut, di antaranya mengunjungi sejumlah toko obat hingga apotek di sejumlah tempat, mewawancarai pemilik toko untuk menemukan masalah yang sering mereka temui, kemudian memutuskan metode yang paling tepat untuk mengakses Gogobli di toko-toko maupun apotek.

Riset bertahun-tahun tersebut sepertinya tidak sia-sia. Sejak pertama kali diluncurkan pada Mei 2016 hingga Februari 2017, Halim mengklaim saat ini telah ada 11.500 toko yang terdaftar.

Selain itu, mereka juga telah menjalin kerja sama dengan dua ratus Principal, memiliki lebih dari enam ratus merek yang terdaftar, dan lebih dari lima ribu pembeli B2C.


Di Indonesia, startup lainnya yang bergerak di ranah serupa adalah Greenshop dan Lensza. Akan tetapi, keduanya tampak masih fokus melayani transaksi B2C.

Bisa jadi Gogobli akan mengubah alur distribusi di industri kesehatan dan kecantikan. Akan tetapi, edukasi pasar terhadap model bisnis yang belum familier ini sepertinya akan menjadi salah satu tantangan tersendiri untuk perkembangan bisnis ini di kemudian hari.

Baca Juga  Pemkot Malang Larang GO-JEK dan Uber Jemput Penumpang di Sejumlah Lokasi

(Diedit oleh Septa Mellina)

The post Gogobli Coba Pecahkan Masalah Distribusi di Ranah Kesehatan dan Kecantikan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *