Hujan; Pelepas Rindu dan Kegundahan Terbaik yang Pernah Semesta Persembahkan

[ad_1]

Hujan turun menggoyangkan daun-daun di ranting. Angin membawa sejuknya sampai ke bulu kuduk. Aku suka sekali memandangnya dari depan jendela. Memperhatikan butir demi butir air hujan sampai ke tanah menjadikan warna coklatnya semakin pekat. Di beberapa tempat airnya menggenang, membentuk kolam dari penglihatan semut-semut merah yang berada di sekitar tempat kejadian.

Hujan selalu membawa sejuknya. Hingga sesekali mendorongku untuk memejamkan mata menikmatinya. Aku suka melakukannya. Tidak hanya sekedar menikmati dingin hujan yang dibawa angin . Tapi angin juga seolah membawa dinginnya kenangan. Nikmatnya mengenang peristiwa yang telah tinggal di waktu lalu.

Daun-daun di ranting itu jatuh helai demi helai menyapa tanah yang sudah basah. Demikian pula lembar demi lembar masa lalu itu datang menyapa pikiranku. Jatuh pada sebuah lubuk yang telah di genangi rasa bernama rindu. Rindu yang hanya dapat di kenang dan dilepaskan ketika hujan datang. Membiarkannya hadir hingga teduh membawanya kembali ke dalam lubuknya.

Lembar demi lembar mulai bercerita. Lembar pertama mengingatkanku pada suara yang pernah menjadi nada di hidupku. Bagian yang aku ingat ketika dia tertawa lepas melihat aksi lucu dari pertunjukkan yang kami tonton malam itu di sebuah gedung pertunjukkan.

Ketika seorang aktor berlari-lari kecil sambil mengupil persis seperti anak kecil berumur empat tahun.

Lembar kedua mengingatkanku pada lekuk bibirnya. Ketika dia tersenyum bahagia menatapku. Menyampaikan betapa ia bahagia atas cintaku yang dirasakannya. Ketika itu dia duduk disampingku, menggenggam tanganku lalu mengembangkan bibirnya. Penuh kasih mengucapakan terima kasih atas keberadaanku di sampingnya.

Hujan masih saja turun menjatuhkan daun-daun dari rantingnya. Masih membasahi tanah. Lembar kenangan berlanjut ke lembar berikutnya. Lembar ketiga mengingatkan aku pada air matanya. Masih teringat jelas olehku saat dimana dia menitikkan air matanya pertama kali di hadapanku. Dia hanya membisu. Tak berkata apapun. Pertanyaan-petanyaanku hanya mampu di jawabnya dengan tatapan yang penuh dengan air mata.

Baca Juga  Mikirin Kerjaan Sampai Rencana Pernikahan Bikin Pusing Sendiri? Coba Bayangin Saja Kamu Lagi Santai Di 10 Tempat Ini

Peristiwa di lembar ini yang paling kuingat. Hingga menghabiskan waktu paling lama mengenangnnya. Aku terus berusaha untuk dapat mencairkan suasana. Membuat bibirnya mengembang. Tapi bibir yang tipis itu tetap saja masih mengecut. Dia masih tanpa suara. Yang terjadi malah air matanya yang semakin melimpah. Membasahi pipinya yang tirus. Matanya yang sayu tak mampu terbelalak karena berat dengan air mata.

Air matanya berhasil membawa aku ikut terhanyut di dalamnya. Aku masih saja terus berusaha untuk tak menambah air mata. Aku menggenggam tangannya yang terasa lebih dingin dari dingin yang dibawa angin. Tanganya lemah sepertinya tenaganya telah banyak terbuang bersama air mata. Aku tak mampu menahan air mata yang telah menyesak untuk keluar.

Entah dia tahu atau tidak. Aku juga menangis. Tersedu-sedu di belakang bungkungnya. Aku sama takutnya dengan ketakutan yang dia miliki. Rintik hujan sudah mulai turun jarang-jarang. Tiga puluh rintiknya hitungan mundur. Kenangan itu pun ikut meneduh. Aku suka mengenangmu. Mengenang tawa, senyum dan yang yang paling basah mengenang air mata.

Pipiku basah. Persis seperti pipi tirusmu waktu itu. Seperti tanah yang telah basah oleh hujan sore ini. Seperti sore waktu itu. Dimana kita masih duduk berdampingan menatap hujan bersama, melawan dingin yang di bawa angin dengan bergenggam tangan. Begitu waktu itu kita melepas rindu dalam kehangatan. Kini masih sama.

Masih kulepas rindu untukmu dengan cara yang sama. Kulepas rindu dalam genggaman yang akan selalu terasa hangat. Kemarin, sekarang dan selamanya. 

[ad_2]
Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *