Jatuh Untuk Bangkit dan Patah Untuk Tumbuh, Penyemangat Bagimu yang Mudah Putus Asa

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

(Banda Neira)

Aku pernah jatuh cinta, merasakan dada berdegup tak karuan saat hanya melihatnya sekelebat. Merasakan bagaimana setiap pertemuan dengannya adalah hal yang paling dinantikan setiap saat. Memikirkannya hingga membuat selalu bibir ini menarik simpulnya setiap waktu. Empat tahun yang lalu, aku benar-benar merasakan hal demikian. Walaupun aku masih belum dapat menjelaskan secara gamblang apakah yang demikian itu yang namanya cinta. Aku masih enggan menyebutnya dengan kalimat itu.

Saat dua tahun perasaan itu mengendap, kita akhirnya sama-sama mengutarakan. Akhirnya, saat yang dinantikan itu datang. Iya, saling mengungkapkan apa yang selama ini dirasa. Ku kira semuanya akan seperti cerita yang berakhir dengan indah. Tapi nyatanya yang ku kira indah tak terwujud begitu saja. Semuanya terlambat, katanya. Apanya yang terlambat, pikirku. Apa selama ini aku yang tidak menyadari bahwa kepedulian yang ia berikan itu semacam sinyal untukku? Apakah aku yang tak se-peka itu? ah ku rasa bukan itu sebabnya. Kalaupun memang menyimpan rasa yang sama, mengapa ia bilang terlambat? Tak ada kata terlambat untuk memulai yang indah, bukan? Akhirnya apa yang menjadi keputusannya tak bisa diubah. Alasan yang ia berikan terkesan lucu jika didengar. Perihal jarak!

Akupun mencoba menerima keputusannya dengan ikhlas hati. Mencoba melupakan apa yang selama ini ku rasakan. Melupakan perasaan ku kepadanya, melupakan senyumnya, melupakan perhatiannya, apapun tentangnya ingin ku lupakan. Proses bangkit untuk melupakan yang ku kira mudah nyatanya tak semudah yang ku bayangkan. Aku mencoba menyibukkan diri dengan berbagai hal positif. Berorganisasi, bekerja paruh waktu, dan terkadang travelling. Bukankah menyibukkan diri adalah cara terbaik untuk melupakan? Ya, dan waktu ku serasa habis hanya untuk satu tujuan, melupakan! Aku bahkan lupa untuk memperbaiki diriku, memperbaiki akhlak ku. Selama ini tujuan dan caraku melupakannya masih salah. Pantas saja walaupun aku menyibukkan diri sekeras apapun, ingatan tentangnya masih saja membekas.

Baca Juga  5 Fakta Bahwa Memperbaiki Diri Itu Bukan Bermanfaat Buat Dirimu Saja, Tapi Lingkunganmu Juga!

Aku lupa, aku tak meminta kepada Sang Maha Membolak-balikan hati manusia. Aku lupa tak berdoa padaNya untuk ikhlas menerima. Aku hanya berdoa supaya aku bisa lekas melupakan. Ternyata langsung melupakan itu tidaklah cukup. Semakin kuat perasaan ingin melupakan, justru semakin sulit untuk perasaan itu hilang. Karena, hati belum ikhlas untuk menerima.

Ternyata cara terbaik untuk melupakan adalah ikhlas untuk menerima. Ikhlas menerima bahwa memang inilah rencana dari Yang Maha Kuasa. Ikhlas terhadap apa yang telah dia perbuat kepada kita. Ikhlas bahwa perasaan yang kita rasakan belum pada tempatnya. Jika kita berdoa untuk selalu ikhlas pada ketetapanNya, Insha Allah proses melupakan akan berjalan dengan mudah tanpa kita rasa.

Menangislah jika memang ingin menangis. Menangislah kepada-Nya. Mengadulah.  Bahkan menggugulah jika itu memang perlu. Menggugulah di hadapan-Nya, sampaikan pada-Nya apa yang dirasakan. Setelah menangis hingga menggugu, jangan lupa untuk bangkit. Bangkit memperbaiki apa yang selama ini masih kurang. Bangkitlah untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Disamping melupakan, jangan lupa untuk terus berbenah diri. Membenahi akhlak agar menjadi lebih baik dimata-Nya. Jika memang mencintai, sampaikanlah kepada Sang Pemilik Hati. Selalu dekati Sang Pencipta dahulu bukan ciptaannya. Ceritakan kepada Tuhanmu jangan kepada sesama manusia. Ceritakan dia disepanjang sujud di sepertiga malammu. Itulah yang dinamakan mencintai dalam diam. Diam-diam mendoakan, diam-diam merindukan.

Pada suatu waktu saat aku sudah lelah memikirkan perihal cinta dan remeh temehnya, tiba-tiba orang baru datang di kehidupanku. Dia tak tanggung-tanggung mengajakku untuk serius. Yang ada dipikiranku saat itu adalah bagaimana mungkin jika orang baru bisa langsung mengajak untuk hal yang menurutku serius itu. Saat pertanyaan itu dilontarkan kepadaku, hanya ku jawab “biar yang diatas yang mengatur semuanya”. Aku memang belum bisa menjanjikan semuanya. Aku takut untuk berjanji kepada orang lain. Aku takut jika aku tak bisa menepati. Lalu ku jawab lagi “mari saling mengenal satu sama lain dulu sembari memperbaiki diri”.

Baca Juga  Rasanya Jadi Orang Paling Selow Sedunia; Apa-Apa Pengennya Dibawa Santai Saja

Dia pun mengiyakan, lalu ku tambahi, “aku hanya perempuan biasa, belum bisa istiqamah, ngga jago dandan, belum jago masak, aku juga ngga se-kalem yang kamu bayangin”. Dan jawaban yang dia berikan lumayan membuatku tercengang, “belum bisa istiqamah? Terus berusaha. Ngga jago dandan? Belajar. Ngga jago masak? Belajar. Kurang kalem? Belajar. Dibiasakan ya. Masih banyak waktu”

Sejak saat itu aku ingin terus belajar, memperbaiki apa yang kurang dari diriku. Bukan untuk dia, tapi untuk diriku sendiri. Alangkah baiknya untuk sama-sama belajar, bukan?

Aku dan dia yang tiba-tiba ingin mengajakku serius itu masih jarang ber-komunikasi. Komunikasi hanya seperlunya, karena memang kesibukan masing-masing. Aku juga tak mau bergantung untuk terus dikabari dan mengabari. Aku percaya bahwa jika memang dia ditakdirkan untukku, sesibuk apapun, selalu ada aku dalam tiap waktunya. Jika memang dia untukku, selalu terselip namaku dalam setiap malam-malam bersama-Nya.

Jatuh cinta dan terluka sama-sama mengajarkan banyak hal, terutama tentang memperbaiki diri. Bukankah ketika jatuh cinta kita akan berusaha tampil menarik didepan orang yang membuat kita jatuh cinta itu? berusaha menjadi cantik, berusaha menjadi tampan, berusaha menjadi pintar, berusaha selalu terlihat menarik dihadapannya. Segala cara akan dilakukannya bukan? Jatuh cinta kadang bisa memberikan energi positif untuk melakukan hal-hal baik. Namun seringkali saat jatuh cinta kita seakan lupa kepada-Nya. Lupa jika sewaktu-waktu Dia bisa membalikkan hati kita. Lupa bahwa saat Sang Maha Segalanya hanya sekedar berkata “kun fayakun” maka terbaliklah hati kita. Yang tadinya begitu menggebu untuk jatuh cinta, dan merasakan bagaimana cinta-cintanya tetiba hati sudah berbalik dan berubah.

Yang cinta jadi berkurang cintanya, atau bahkan hilang. Yang benci jadi berkurang bencinya atau bahkan hilang. Sesederhana seperti membalikkan telapak tangan. Maka dari itu, jatuh cinta lah sewajarnya dan seikhlasnya.

Baca Juga  Bertahan di Perantauan Udah Biasa, 6 Hal Ini Perlu Kamu Lakukan Agar Bisa Berkembang Di sana

Tak beda jauh dengan jatuh cinta, patah hati pun dapat membuat seseorang belajar menjadi lebih baik. Patah hati yang baik adalah setelah patah hati dapat mengambil pelajaran agar tidak jatuh di tempat yang buruk lalu patah untuk yang kedua kalinya. Jatuhlah sejatuh jatuhnya, lalu patahlah sepatah patahnya, menggugu hingga tersedu-sedu lah jika perlu. Namun jangan terlalu lama, setelah dirasa cukup menggugu, segera bangkitlah. Kantongi kembali kebahagian-kebahagian yang selama ini tercecer. Lihat, masih banyak hal baik yang menunggu didepan. Masih banyak hal indah yang menunggu untuk dijemput.

Perihal proses menemukan jodoh kadang hanya perlu berjalan melangkah ke depan. Seakan berjalan menuju tempat yang indah. Yang untuk menuju ke sana hanya perlu terus berjalan. Walaupun saat perjalanan tersebut akan menemui banyak kerikil tajam serta rintangan yang selalu ingin ditaklukan. Namun bukan berarti harus diam ditempat, kan?  Bukan tiba-tiba berhenti mendadak atau bahkan kembali ke belakang. Jika kerikil tajam dan berbagai macam rintangan tersebut bisa ditaklukan, bukankah tempat yang kita tuju itu akan semakin dekat? Semakin terlihat, dan bahkan sampai pada tujuan!

Teruslah untuk jatuh cinta setiap hari. Agar selalu bersemangat untuk terus memperbaiki diri. Jika patah hati, cari sesuatu yang bisa menumbuhkan lagi. Seperti kutipan lagu dari Banda Neira, bahwa “yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan berganti”. Terus bangkit. Terus belajar. Dan tentunya terus mendekatkan diri dan meminta kepada Sang Maha Cinta agar diberi takdir cinta yang terbaik atas ridhoNya.  

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *