Kecewa dan Menangis Sekencang-kencangnya Itu Wajar. Tapi, Jangan Sampai Terlarut Dalam Keterpurukan!

[ad_1]

Sebelumnya gue sudah pernah mendengar tentang mindfulness, ya menurut gue itu sejenis istilah yang dipakai dalam hal meditasi, mencari ketenangan dan sejenisnya. Istilah ini juga banyak gue temui ketika membaca buku-buku yang berkaitan dengan filosofi ajaran Buddha maupun Zen. Tapi ya dasar nggak terlalu mendalami, jadinya cuma sekadar baca sambil lalu aja tanpa ada usaha untuk dimengerti secara lebih baik.

Gue mulai mencari lebih lanjut mengenai mindfulness berawal dari kejadian waktu di Thailand. Waktu itu gue lagi ikut sebuah training yang diadakan suatu organisasi. Di situ selain belajar mengenai teori, ada juga praktiknya. Nah waktu praktiknya itu, karena dipasangkan sama teman, jadinya kita nggak terlalu serius. Kita cekakak cekikik karena teringat peristiwa-peristiwa lucu yang dulu pernah terjadi. Maklum, teman gue di training kebanyakan orang luar negeri dan kita ketemunya paling dua sampai tiga kali dalam setahun. Jadinya pas ketemu kita suka bernostalgia.

Rupanya aksi cekakak cekikik bak kuntilanak ngecengin genderuwo tertangkap oleh mata supervisor atau pengawas training. Jadilah kita ditegur. Intinya, walaupun hasil praktikum bagus, kita harus lebih serius. Istilah dia, ‘lebih mindful’.

Here and now. Nggak boleh tuh peristiwa atau ingatan masa lalu mempengaruhi performa kita. Karena menurutnya itu bisa bahaya kalau dilakukan di luar praktikum. Kalau dibiasakan, kita gampang terpengaruh sama ingatan masa lalu baik yang jelek, bagus maupun lucu, maka nanti kerjaan akan tergantung mood.

Wah iya juga sih, pikirku! Nggak mungkin kita lagi menangani klien terus cengangas cengenges karena teringat hal yang lucu, atau nggak bagus juga kalau di depan klien kita tiba-tiba nangis sesenggukan karena teringat memori dengan sang mantan. Hahaha.

Baca Juga  Menikmati Kesalahan Sendiri; Cara Terbaik Untuk Hikmat Berintrospeksi

Sejak ditegur itu, gue mulai browsing dan baca-baca buku yang berhubungan dengan mindfulness. Memang benar sih kata si supervisor, intinya itu ‘here and now.’ Alias disini dan sekarang.

Pikiran kita gampang banget berkelana ke masa lalu atau membayangkan hal di masa depan yang belum terjadi. Padahal kerjaan di depan mata masih harus ditangani. Jebakan masa lalu membuat kita merasa sedih atau menyesal, sedangkan pemikiran di masa depan menciptakan delusi. Alhasil, kita jadi berharap-harap nggak pasti atau merasa khawatir.

Semuanya ini nggak ada gunanya. Yang paling penting adalah tetap fokus pada kegiatan apapun yang sedang kita jalankan. Kelihatannya gampang tapi ternyata sulit dilakukan. Karena sekali lagi perlu diingat bahwa pikiran bisa berjalan-jalan ke mana aja.

Kita harus waspada dengan pikiran kita. Bila pikiran mulai melantur, harus cepat-cepat kembali fokus pada kerjaan. Seperti pemain bola profesional, saat di lapangan, dia akan fokus pada permainan sepakbola. Kiper akan fokus mempertahankan gawang, ngga peduli apakah sebenarnya dia lagi ada masalah apa nggak. Selama 90 menit dia harus bisa melakukan performa yang terbaik. Begitu juga kalo kita nonton Moto GP, semua pembalap harus konsentrasi penuh dengan motornya, sedikit nggak konsen kecelakaan bisa terjadi.

Ingat, fokus, mindful. Here and now. Jangan biarkan masa lalu mengganggu atau kekuatiran di masa depan menghantui. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang. Semoga sukses!

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *