Konsultan Hukum Ini Tinggalkan Pekerjaan demi Dirikan Startup Equity Crowdfunding

Bekerja di firma hukum terkenal seperti Allen & Overy ternyata tidak serta merta membuat seorang konsultan hukum seperti Ivan Nikolas Tambunan merasa nyaman. Kegelisahannya terhadap bisnis investasi di dunia startup dan Usaha Kecil Menengah (UKM) tanah air mendorongnya untuk mencari tantangan baru.

“Saya melihat masih ada funding gap. Banyak startup dan UKM yang kesulitan mencari pendanaan, sedangkan di sisi lain ada banyak orang yang tertarik untuk memberikan investasi. Sayangnya, masalah ini belum bisa terselesaikan dengan kehadiran modal ventura (VC),” tutur Ivan.

Dari pemikiran tersebut, Ivan pun mulai membangun sebuah platform equity crowdfunding bernama Akseleran. Dengan platform tersebut, ia berusaha menghubungkan para founder yang ingin menggalang dana dengan orang-orang yang tertarik untuk berinvestasi.

Konsep ini serupa dengan bisnis peer to peer (P2P) lending yang tengah marak di tanah air. Bedanya, dalam P2P lending para investor akan mendapatkan kembali uang yang mereka pinjamkan setelah ditambah bunga. Sedangkan lewat Akseleran, para investor justru mendapat bagian saham, dan hanya menerima uang sesuai dengan keuntungan perusahaan yang mereka beri investasi.

Selain itu, investasi di Akseleran juga bersifat berkelanjutan, tidak seperti layanan P2P lending yang mempunyai batas waktu pengembalian. Oleh karena itu, selama para investor tersebut belum menjual saham yang mereka miliki, mereka pun bisa terus menikmati keuntungan.

Mengincar pendapatan dari komisi dan biaya administrasi

Akseleran | Screenshot

Proses pengembangan Akseleran sendiri telah dimulai sejak bulan Mei 2016 silam. Ivan pun menggandeng sang kakak Mikhail Tambunan yang tengah bekerja sebagai auditor di Deloitte, serta Christopher Gultom yang merupakan konsultan di AJCapital, untuk membantunya mengembangkan startup tersebut.

“Saat ini, kami semua telah bekerja full time di Akseleran,” ujar Ivan. Setelah meluncurkan versi beta pada bulan Desember 2016, Akseleran akhirnya hadir secara resmi pada tanggal 21 Maret 2017 yang lalu.

Baca Juga  Aplikasi Google Search Kini Hadir dengan Fitur Pencarian Musik Komprehensif

Untuk bisa menggalang dana lewat Akseleran, sebuah startup atau UKM harus membuat proposal yang berisi penjelasan tentang model bisnis yang dijalankan, rencana pemasaran, hingga proyeksi keuangan. Mengingat banyak founder yang tidak mampu membuat proposal seperti itu, Akseleran pun menyediakan jasa pembuatan business plan dengan biaya Rp5 juta.

Setelah sebuah kampanye penggalangan dana disetujui, maka para investor bisa langsung berinvestasi pada startup dan UKM tersebut. Seorang investor bisa mulai berinvestasi dengan dana minimal Rp100 ribu.

Akseleran kemudian akan berperan sebagai wakil dari para investor tersebut, sehingga nama-nama para investor tidak perlu terdaftar secara langsung sebagai pemegang saham di startup dan UKM tertentu. Hal ini mereka lakukan demi mempermudah proses hukum dalam transaksi jual beli saham tersebut.

Bila sebuah startup atau UKM berhasil mengumpulkan dana sesuai target, Akseleran akan langsung mengirimkan dana tersebut kepada mereka, setelah dikurangi komisi sebesar tiga persen. Untuk menyelesaikan proses hukum dari pendanaan tersebut, mereka juga mengenakan biaya sebesar Rp5 juta.

Pada bulan Februari 2017 yang lalu, Akseleran telah mendapat pendanaan tahap awal dari seorang angel investor.

Tiga hal yang perlu kamu perhatikan dalam equity crowdfunding

Crowdfunding-Illustration | Featured

Di Indonesia, bisnis equity crowdfunding memang belum terlalu dikenal. Namun di luar negeri sebenarnya telah ada beberapa startup yang mencoba menghadirkan layanan tersebut, seperti CrowdCube, OurCrowd, dan SyndicateRoom.

Startup P2P lending yang beroperasi di tanah air, Crowdo, sebenarnya juga telah mempunyai layanan equity crowdfunding. Namun mereka sejauh ini baru menghadirkan layanan tersebut di Malaysia, di mana mereka telah mendapat izin resmi.

Seperti layaknya bisnis investasi lainnya, equity crowdfunding juga menyimpan risiko yang besar. Co-founder SyndicateRoom Tom Britton menyatakan kalau lebih dari delapan puluh persen investasi yang kamu lakukan mungkin tidak akan menghasilkan keuntungan. Jika kamu beruntung, satu dari sepuluh perusahaan yang kamu beri investasi mungkin akan bisa menutupi semua kerugian yang kamu alami.

Baca Juga  Bagaimana Modal Ventura Ini Berniat Mengedukasi Bangsa Melalui Video Game

Oleh karena itu, Britton pun mengingatkan para calon investor di equity crowdfunding untuk memperhatikan beberapa hal. Yang pertama adalah terkait hak untuk membeli saham baru di kemudian hari. Hal ini penting agar startup dan UKM yang kamu beri investasi tidak menjual banyak sekali saham dengan harga yang murah di kemudian hari, yang nantinya akan membuat saham yang kamu miliki menjadi tidak berharga.

Hal kedua yang harus kamu perhatikan adalah siapa yang nantinya akan melakukan due diligence alias memeriksa keabsahan startup dan UKM yang tengah menggalang dana. Ada baiknya kalau kamu juga melakukan pemeriksaan sendiri, agar bisa mengetahui kepada siapa kamu akan memberikan investasi.

Dan hal terakhir adalah bagaimana keabsahan bisnis equity crowdfunding tersebut di negara tempat kamu berada. Akseleran sendiri mengatakan kalau mereka saat ini telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait layanan yang mereka hadirkan ini.

(Diedit oleh Septa Mellina)

The post Konsultan Hukum Ini Tinggalkan Pekerjaan demi Dirikan Startup Equity Crowdfunding appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *