Laporan ANGIN: Kondisi dan Tantangan Startup Bermisi Sosial di Tanah Air

Selain para startup yang memang fokus mencari keuntungan,  saat ini juga telah bermunculan banyak startup tanah air yang justru mengedepankan misi sosial dalam bisnis mereka. Para startup tersebut biasa dikenal dengan istilah social enterprise.

Sayangnya, berbeda dengan rekan mereka yang mengejar keuntungan, kebanyakan dari social enterprise tersebut justru tidak mempunyai model bisnis yang bisa membantu mereka untuk mendapat penghasilan dan berkembang dengan baik. Mereka biasanya hanya bergantung pada donasi dari pemerintah dan badan amal untuk bisa bertahan.

Hal ini diungkapkan Angel Investment Network Indonesia (ANGIN) dalam laporan mereka terkait perkembangan social enterprise di tanah air. Berikut ini adalah tiga hal yang penting dari laporan yang mereka buat untuk lembaga PBB United Nations Development Programme (UNDP) tersebut.

Mayoritas berkecimpung di bisnis pertanian

Social Enterprise Indonesia

Menurut ANGIN, sebuah startup bisa dikatakan sebagai social enterprise apabila mereka memenuhi tiga hal, yaitu secara sengaja ingin mengatasi masalah sosial dan lingkungan, berusaha mencari keuntungan untuk mempertahankan bisnis, serta mempunyai pola pikir kewirausahaan untuk mengembangkan bisnis mereka.

Dan sejauh ini, mayoritas social enterprise tanah air yang ditemui ANGIN ternyata bergerak di bidang agrikultur. Beberapa dari mereka mencoba memotong jalur distribusi hasil pertanian, sedangkan beberapa yang lain justru berusaha membantu petani menghasilkan panen yang lebih baik.

Selain itu, ada cukup banyak social enterprise yang membangun bisnis di bidang fintech (KitaBisa), kesehatan (Sehati), dan pendidikan (RuangGuru).

Terjebak di fase awal

Social Enterprise Mentor

Dalam laporan tersebut, ANGIN juga menyatakan kalau sekitar delapan puluh persen social enterprise di Indonesia masih berusia di bawah lima tahun. Mereka biasanya didirikan oleh para founder yang mulai mengikuti tren startup pada tahun 2012.

Baca Juga  Raih Pendanaan Awal, Pomona Berambisi Menjadi Shopkick-nya Indonesia

Sayangnya, para perusahaan tersebut hingga saat ini masih berusaha untuk melakukan validasi bisnis dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Menurut ANGIN, tujuh puluh persen social enterprise di tanah air masih berada di fase tersebut.

Hal ini pun membuat mereka tidak siap menerima pendanaan besar dari investor. Tidak adanya kisah sukses dari para social enterprise tersebut pun turut mengecilkan minat perusahaan besar dan badan pemerintah untuk turut membantu mereka.

Semakin banyak investor dan enabler

Social Enterprise Investor

Untungnya, ada semakin banyak pihak di luar perusahaan besar yang saat ini tertarik untuk membantu para social enterprise. ANGIN sendiri merupakan salah satu investor yang paling sering memberi pendanaan kepada para social enterprise. Hingga saat ini, mereka telah memberikan sepuluh investasi kepada para startup berbasis sosial di tanah air.

Langkah ANGIN tersebut pun diikuti oleh Root Capital, Garden Impact, Mercy Corps Social Ventures, ResponsAbility, serta Kinara. Selain itu, kini pun telah ada beberapa organisasi yang berusaha membantu perkembangan para social enterprise tersebut, seperti UnLtd Indonesia, Endeavor Indonesia, dan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek).

(Diedit oleh Septa Mellina)

The post Laporan ANGIN: Kondisi dan Tantangan Startup Bermisi Sosial di Tanah Air appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *