Lima Pelajaran Menarik dari Lima Bulan di Silicon Valley

Beberapa tahun berlalu semenjak saya pertama kali menyukai travelling. Sejak saat itu, saya telah melanglang buana ke berbagai macam tempat. Sayangnya, tidak semua perjalanan berjalan dengan mulus.

Saya tak mau memulai tulisan ini dengan kisah sengsara saat saya berpetualang. Penerbangan yang tertunda, sinyal yang buruk, dan koper yang hilang membuat saya sadar bahwa tidak ada hal lain yang dapat merusak rencana perjalanan selain pengalaman buruk di bandara. Pernah satu kali, ketika saya menghubungi maskapai untuk menyampaikan kebingungan yang saya alami, saya menemukan sebuah rahasia kecil.

Kamu akan heran saat mengetahui hal ini.

Ketika penerbangan kamu tertunda lebih dari tiga jam (tergantung dari negara asal dan tujuan kamu), maskapai berkewajiban untuk memberikan kamu kompensasi; jumlahnya sendiri bisa mencapai US$600 (sekitar Rp8 juta). Artinya, jutaan dolar menguap begitu saja tanpa klaim setiap tahunnya. Apakah kamu mengetahui hal ini? Wajar saja jika kamu tidak tahu, karena maskapai tidak mengiklankan hal ini di mana pun.

Sebagai seorang penggiat teknologi, saya dan suami saya tergerak untuk mencari solusi agar kompensasi ini kembali ke kantong konsumen. Lalu muncul sebuah ide untuk menciptakan Instalocate, sebuah aplikasi asisten perjalanan yang akan memberitahu kamu tentang penerbangan yang tertunda, serta kompensasi yang harus dibayarkan maskapai kepada kamu. Aplikasi ini bekerja dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan dapat diakses melalui Facebook Messenger.

silicon valley | instalocate

Sumber: Recast

Kami langsung membuat aplikasi tersebut dan meluncurkan prototipenya. Langkah selanjutnya yang ada di pikiran kami adalah membawa aplikasi ini ke “tanah suci” para startup — Silicon Valley. Saya segera mendaftarkan diri ke sebuah program kursus di Stanford University, bergegas merapikan isi tas saya, dan berangkat ke San Francisco untuk mewujudkan mimpi saya.

Dan inilah kami sekarang setelah lima bulan berlalu, dengan beberapa pencapaian: ribuan pengguna, penghargaan The Best Chatbot of the Year, dan diterima dalam program FBstart milik Facebook. Perjalanan ini lebih menegangkan dari sekadar roller coaster, dan saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga. Pada artikel ini, saya ingin berbagi tentang beberapa pelajaran yang berharga tersebut.

Ide itu murah, tapi eksekusi adalah segalanya

Ucapan di atas mungkin sudah jutaan kali terdengar. Tetapi ketika saya datang ke Silicon Valley, saya sangat berhati-hati untuk menjelaskan dengan detail mengenai produk yang saya buat. Saya takut bila ada seseorang yang akan mencuri ide saya. Lambat laun, saya akhirnya mendapat pelajaran yang paling berharga: Jangan simpan ide kamu, tapi bicarakan ide tersebut dengan orang lain.

Setelah dua ratus gelas kopi dan berjam-jam saya habiskan di Cafe Coupa, Palo Alto, akhirnya saya dapat mematangkan visi untuk produk yang kami buat. Jika kamu sedang membuat suatu produk, sebaiknya kamu pergi keluar dan temui sebanyak mungkin orang. Mintalah tip dari setiap mereka.

Baca Juga  Menkominfo Gandeng Twitter untuk Basmi Hoaks dan Pengguna Media Sosial yang Usil

Cara pandang saya tentang kompetisi ini juga akhirnya berubah. Ketika kami mulai membicarakan produk kami dengan orang lain, pertanyaan pertama mereka adalah, “Apakah kalian sudah memiliki saingan?” Walau sedikit khawatir tentang respons mereka, saya tetap menjawab, “Ya.” Tetapi respons mereka selalu berhasil membuat saya terkejut. “Bagus, ini berarti solusi yang kamu buat telah tervalidasi.”

Tapi tunggu dulu. Umumnya, apabila kita akan mewujudkan sebuah ide, kita pasti akan mencari tahu apakah sudah ada orang yang memiliki ide serupa. Jika ada, biasanya semangat kita cenderung turun. Di Silicon Valley, saya belajar bahwa tidak semua bisnis yang sukses membutuhkan ide yang unik. Sebaliknya, yang kamu butuhkan adalah eksekusi yang unik.

Mulai dari Google, Microsoft, hingga Facebook, mereka bukanlah pemain pertama di industri tersebut, tetapi mereka berhasil menjadi pemimpin pasar. Mengapa?

Karena mereka dapat melakukan eksekusi yang tidak dapat dilakukan oleh kompetitor mereka. Kompetitor hanya berfungsi sebagai validasi, bahwa produk yang dibuat cocok untuk pasar.

Seperti yang dikatakan oleh Rahul Varshneya dalam artikelnya di Entrepreneur.

“Google tidak perlu mengedukasi pasar tentang pentingnya sebuah mesin pencari. Hal ini memungkinkan Google untuk fokus membangun sebuah produk yang jauh lebih baik dari yang pernah ditawarkan oleh perusahaan lainnya. Google berhasil “membakar” pasar. Hal yang sama juga terjadi pada peluncuran Dropbox. Industri file-sharing awalnya didominasi oleh perusahaan bernama Box, kini Dropbox berhasil menciptakan peluang baru dan akhirnya menemukan segmen pasar yang cocok untuk mereka.”

Seorang entrepreneur harus menjadi seorang pencerita

Mengapa kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton film? Karena gambar, adegan, serta berbagai intrik lainnya terus hadir untuk membuat kita betah duduk dan menonton film tersebut. Metode naratif ini selalu berhasil. Walaupun cara penyampaiannya akan berbeda, praktik ini lazim digunakan sejak zaman batu.

Baca Juga  Bagaimana Saya Menemukan Partner Saat Masih Awam di Dunia Startup

Kemarin, saya berada di sebuah acara di mana banyak startup yang mendemonstrasikan produk mereka. Di antara mereka ada seorang pria yang mengaku bahwa ia mampu membuat kamu (atau pikiranmu) menjadi sebuah bot. Ia memulai kisahnya dari kepergian ayahnya beberapa bulan yang lalu dan bagaimana ia berharap bahwa ayahnya meninggalkan sebuah catatan untuknya. Setelah acara tersebut, satu hal yang saya pikirkan adalah mendaftarkan diri saya untuk menjadi sebuah bot. (Siapa yang tidak mau menjelma menjadi sebuah bot ketika mereka meninggal?)

Metode ini disebut “story-telling” dan cukup populer di kalangan para pemasar. Metode ini mengombinasikan kemampuan bercerita dan menjual produk. Bangunlah sebuah cerita seputar merek yang akan kamu promosikan. Cerita inilah yang akan menarik audiens kamu dan membuat mereka menginginkan lebih.

Sebuah cerita yang dilengkapi dengan hal-hal emosional akan mempengaruhi cara otak manusia bekerja. Hal ini akan membuat kita semakin percaya dan mengerti keadaan orang lain, menjadikan kita lebih terbuka terhadap ide-ide yang mereka sampaikan.

Eksperimen kecil berujung pada hal yang besar

Sebuah produk yang baik adalah hasil dari siklus desain, pengumpulan ide dan pembuatan ide. Ini adalah design thinking 101.

Apakah kamu mengingat masa-masa awal ketika Facebook dibuat? Media sosial ini awalnya hanya sekadar database profil mahasiswa Harvard.

Setelah beberapa saat barulah hadir fitur News Feed dan fitur lainnya. Kini, mereka telah bereksperimen dengan berbagai fitur baru setiap hari.

Apabila kamu berencana untuk membuat sebuah produk, perkenalkan produk kamu ke pasar dengan fitur yang paling dasar.

Sebelum benar-benar diluncurkan, Founder Dropbox Drew Houston membuat sebuah video yang mendemonstrasikan bagaimana solusi file-sharing ini bekerja. Video berikut ini adalah bentuk MVP (Minimum Viable Product; produk minimum yang layak guna). Video dari versi MVP ini dibuat untuk memvalidasi asumsinya bahwa banyak orang yang akan membeli produk yang ia buat. Berkat video ini, daftar penunggu yang mendaftar untuk mencoba versi beta dari aplikasi ini meningkat, dari 5.000 pengguna menjadi 75.000 pengguna hanya dalam waktu satu malam.

Baca Juga  Update Terbaru BlackBerry Messenger Hadirkan Beragam Fitur Bagi Pelaku Bisnis

Berikut adalah video MVP dari Dropbox:

 

Ketika kami meluncurkan aplikasi, kami hanya menyajikan satu fitur: mengetahui lokasi real-time dari pesawat yang dinaiki pengguna. Kini, setelah empat bulan, kami telah menambahkan beberapa fitur lainnya dan bahkan memungkinkan pengguna untuk mengklaim kompensasi. Minggu lalu, kami baru saja berhasil membantu teman kami mendapatkan ganti rugi sebesar US$600 (sekitar Rp8 juta) karena penerbangan British Airways miliknya tertunda.

Membuat sebuah produk adalah perjalanan yang panjang, tetapi setiap langkah kecil yang kita lakukan membantu kita untuk sampai ke tujuan akhir.

Pentingnya metrik

Menurut laporan CB Insights, tujuh belas persen dari startup gagal karena mereka tidak memiliki model pendapatan.

Apakah kamu menyadari berapa banyak startup yang menghabiskan miliaran rupiah demi mendapatkan pengguna namun tidak mampu untuk melakukan monetisasi? Ketika biaya untuk mendapatkan pengguna lebih besar daripada lifetime value yang kamu dapat dari pengguna, perusahaan kamu lambat laun akan bangkrut. Sederhananya, apabila kamu perlu membuat sesuatu dengan biaya X, yang akan dijual dengan harga Y, seharusnya nilai Y harus lebih besar dari X.

Jangan berhenti menghitung segala sesuatu.

Rekrut karyawan dengan bijak

Sebuah ide dapat berubah menjadi debu atau emas bergantung kepada talenta yang mengolahnya.

Kami memiliki sebuah tim kecil. Terlepas dari keahlian kami di bidang AI dan machine learning, kami adalah sekelompok pelancong, dan kami semua merasakan kendala yang dihadapi saat bepergian. Itu sebabnya kami bersemangat untuk memecahkan masalah ini. Saya rasa kami mungkin tidak akan mampu membuat sebuah produk secepat ini bila bukan untuk tim kami sendiri.

Pekerjakan karyawan dengan bijak!

Hidup di Silicon Valley mengajarkan saya tentang apa yang dipikirkan oleh pengguna dan bagaimana pasar bekerja. Kombinasi kedua pengetahuan tersebut berhasil membantu saya untuk menjadi seorang entrepreneur yang andal.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh John Patrick Manuwu. Diedit oleh Septa Mellina; Sumber Gambar: Tech Crunch)

The post Lima Pelajaran Menarik dari Lima Bulan di Silicon Valley appeared first on Tech in Asia Indonesia.
[ad_2]

Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *