Pantau Kualitas Udara di Sekitarmu dengan Aplikasi UdaraKita

[ad_1]
Greenpeace Indonesia belum lama ini meluncurkan aplikasi UdaraKita yang berfungsi untuk mengukur kualitas udara. Aplikasi tersebut akan menampilkan Air Quality Index (AQI), kandungan PM 2.5, dan PM 10 dalam udara secara real time.

Sebagai informasi, baik PM 2.5 dan PM 10 merupakan partikel yang ada dalam udara. Ukurannya sangat kecil hingga sebesar 1/30 rambut manusia, serta berasal dari berbagai macam sumber polusi, misalnya asap kendaraan bermotor, pembakaran kayu, batu bara, dan lainnya. Keberadaan partikel tersebut bisa membahayakan kesehatan bila kadar kandungannya dalam udara telah melebihi batas tertentu.

Sementara AQI merupakan indeks kualitas udara yang berasal dari hasil perhitungan berbagai macam faktor, mulai dari partikel polusi seperti PM 2.5 dan PM 10, karbon monoksida, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, hingga nitrogen dioksida. Semakin tinggi angka AQI, maka semakin besar tingkat polusi udaranya.

Kualitas udara belum dapat perhatian khusus

Poster UdaraKita

Peluncuran aplikasi UdaraKita dilatarbelakangi tingkat polusi udara di kota besar, seperti di Jakarta, yang sudah pada sampai tahap cukup mengkhawatirkan. Menurut Greenpeace, tingkat polusi udara di Jakarta sudah berada pada level 45ug/m3 pada semester pertama 2016, atau 4,5 kali lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan World Health Organization.

Sumber polusi udara di kota besar di Indonesia kebanyakan berasal dari transportasi dan pembangkit tenaga listrik yang masih menggunakan bahan fosil. Sedangkan polutan udara yang dinilai paling berbahaya adalah PM 2.5 yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pernafasan serius hingga kanker paru-paru.

Greenpeace mengklaim bahwa tingginya kadar polusi udara di kota-kota besar hingga saat ini belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari terbatasnya data kualitas udara yang dapat diakses masyarakat, khususnya di kota-kota yang memiliki tingkat polusi tinggi. Karena alasan itu, Greenpeace Indonesia menginisiasi aplikasi mobile UdaraKita agar masyarakat bisa mengakses data kualitas udara dengan lebih mudah.

Data real time

Penggunaan aplikasi UdaraKita membutuhkan alat pengukur kualitas udara bernama Laser Egg. Cara kerja alat ini persis seperti kipas pembuangan udara yang terdapat pada mesin penyejuk ruangan. Kipas pada Laser Egg mengisap udara, kemudian menghitung angka AQI serta kandungan PM 2.5 dan PM 10 yang dikandung di dalamnya dengan menggunakan teknologi laser.

Data yang diperoleh Laser Egg kemudian diteruskan ke aplikasi UdaraKita secara real time. Data tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tingkat polusi udara yang dihitung dengan menggunakan standar AQI Amerika Serikat.

Saat ini, Greenpeace Indonesia sudah menyebar Laser Egg di lima puluh titik. “Alat itu ditaruh di tempat yang terekspos udara, seperti di teras, di balkon, misalnya. Atau di atas rumah, yang tidak terganggu pembakaran sampah, pembakaran kompor, segala macam,” ujar Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu, saat ditemui belum lama ini.

UdaraKita - Screenshot

Bersifat swadaya dan sukarela

Aplikasi UdaraKita tak bisa digunakan oleh sembarang orang. Mereka yang menggunakan UdaraKita harus terlebih dahulu memberitahu pihak Greenpeace Indonesia jika ingin menjadi relawan.

Bagi calon relawan yang ingin menggunakan aplikasi UdaraKita, harus terlebih dahulu membeli Laser Egg. Alat ini sudah dijual bebas di beberapa e-commerce dengan harga berkisar Rp1,5 juta.

Bila sudah memiliki alatnya, Greenpeace Indonesia akan memberikan sejumlah syarat yang harus dipenuhi mulai dari tempat pemasangan Laser Egg hingga teknis pemasangan alat. Tujuannya agar data yang didapat lebih akurat.

Bila lolos seleksi Greenpeace, calon relawan cukup memberitahu lokasi serta barcode yang tertera pada Laser Egg miliknya kepada Greenpeace Indonesia. Selanjutnya, barcode dan lokasi itu akan dimasukkan dalam sistem dan relawan sudah bisa online memantau kualitas udara melalui aplikasi. Pemantauan kualitas udara juga bisa langsung dibagikan ke media sosial seperti Twitter.

Laser Egg

Bondan menjelaskan bahwa pihaknya cukup selektif terkait pemberian akses untuk memantau kualitas udara melalui UdaraKita. Pasalnya, data yang terekam harus bisa dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya kelima puluh Laser Egg yang mereka sebar bukan ditempakan di rumah sembarang orang, melainkan di beberapa rumah staf Greenpeace Indonesia.

Masyarakat umum bisa ikut berpartisipasi, namun tetap harus melalui proses verifikasi yang dilakukan Greenpeace Indonesia. “Sifatnya sukarela, barang siapa bersedia. Karena dengan berpartisipasi maka akan berkontribusi juga pada penampilan data PM 2.5 secara masif. Prinsipnya, semakin banyak stasiun pemantauan, akan semakin terlihat bagaimana kualitas udara Jakarta sebenarnya,” kata Bondan.

 

Baca Juga  Pemprov DKI Gandeng EV Hive Hadirkan Co-working Space Bertarif Terjangkau

Perubahan kebijakan

Mendorong kepedulian akan polusi udara

Dengan adanya aplikasi UdaraKita, Bondan berharap pemerintah tergerak untuk membangun hal yang sama. Bila perlu, dilakukan dengan serius. Menurutnya, dengan modal yang relatif kecil, hal ini bisa menghasilkan dampak yang besar.

“Bayangkan kalau semua titik itu banyak titik pemantauan. Kita akan lihat polanya. Kita bisa bilang di sini jelek (kualitas udaranya), pakai masker, kurangi aktivitas di luar,” ucapnya.

Bondan menjelaskan jika pemerintah mampu mengadakan stasiun pemantau kualitas udara dengan jumlah yang lebih banyak, maka akan mampu menghasilkan riset mengenai sumber polusi udara. Jika sudah diketahui sumbernya, pihaknya berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi sumber polusi tersebut.

“Kalau di Greenpeace, kami akan publish data per tiga bulan. Akan terlihat di mana terjadinya puncak PM 2.5. Harapannya, makin banyak titik pemantauan yang dikoneksikan dengan aplikasi UdaraKita, maka akan semakin mewakili suatu daerah mengenai kualitas udaranya,” sambung Bondan.

Air Quality: Real time AQI - Screenshot

Aplikasi UdaraKita saat ini baru tersedia di Google Play Store. Menurut Bondan, pihaknya tengah menunggu sekitar dua minggu hingga satu bulan agar aplikasi ini bisa tersedia di Apple App Store.

Selain UdaraKita, di Google Play Store juga tersedia beberapa aplikasi pengukur kualitas udara lainnya, seperti AirVisual atau Air Quality: Real time AQI. Yang membedakan, titik pemantauan dalam aplikasi itu di Indonesia tidak sebanyak UdaraKita yang memiliki data untuk Jakarta, Bandung, Riau, Bali, Semarang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan; Sumber gambar: Nicolò Lazzati)

The post Pantau Kualitas Udara di Sekitarmu dengan Aplikasi UdaraKita appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *