Perjalanan Kostoom, Startup yang Mengikuti Delapan Kompetisi dalam Waktu Satu Tahun

[ad_1]
Kostoom merupakan salah satu startup di tanah air yang paling sering mengikuti kompetisi. Bayangkan saja, startup yang berusaha menghubungkan pengguna dengan para penjahit tersebut telah mengikuti delapan kompetisi startup dalam kurun waktu sekitar satu tahun saja. Beberapa di antaranya bahkan berhasil mereka menangkan.

Kompetisi pertama yang mereka ikuti adalah WomenWin yang diadakan Girls in Tech Indonesia di akhir tahun 2015. Setelah itu, secara berturut-turut mereka menjadi juara kedua di Spica Runway dan Creative Business Cup Ciputra, serta berhasil menjadi salah satu startup Indonesia yang terpilih untuk mengikuti kompetisi Startup 100 di acara Startup Istanbul.

Tak berhenti sampai di situ, mereka pun mengikuti seleksi Seedstars World Jakarta 2016, dan berhasil keluar sebagai pemenang. Dalam Tech in Asia Jakarta 2016, Kostoom pun turut ikut dalam kompetisi Arena, meski saat itu mereka gagal menjadi juara.

Pada kompetisi The NextDev yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta, CEO & Co-Founder Putry Yuli dan timnya berhasil menjadi salah satu dari tiga pemenang. Di tahun 2017 ini, mereka berhasil terpilih dalam seleksi yang dilakukan Bekraf untuk menentukan startup yang akan dikirim ke acara SXSW di Amerika Serikat.

Apa sebenarnya yang ingin didapat oleh Kostoom dari berbagai kompetisi tersebut?

Akan berhenti mengikuti kompetisi, kecuali …

Kostoom CEO

Putry Yuli, CEO Kostoom

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, saya pun menemui sang CEO di Villa Kostoom yang berlokasi di daerah Depok. Setelah menyelesaikan pekerjannya melipat-lipat kain, ia pun menceritakan kepada saya alasan di balik begitu rajinnya Kostoom mengikuti kompetisi startup.

“Beberapa orang terlahir dengan latar belakang keluarga yang kaya, tumbuh dengan relasi yang banyak, dan mempunyai modal yang cukup banyak untuk membangun bisnis. Namun saya sama sekali tidak mempunyai hal-hal seperti itu ketika akan membangun Kostoom,” tutur Putry.

Baca Juga  Kemendag Gandeng MatahariMall untuk Majukan Sektor UKM Indonesia

Ia juga mengaku kalau pada saat itu ia tidak punya pengalaman yang cukup banyak di dunia fesyen, serta tidak mengenal satu pun investor dan media. Ia hanya mengetahui dunia jahit menjahit dari sang ibu yang berkecimpung di bisnis penjahit rumahan, dan mempunyai ide untuk mengubah bisnis tersebut dengan bantuan teknologi.

Putry memutuskan untuk memperkenalkan ide startup yang ia miliki lewat jalur gratis, yaitu melalui lomba. “Yang saya inginkan pada saat itu hanyalah agar orang bisa tahu tentang keberadaan sebuah startup bernama Kostoom.”

Setelah mengikuti beberapa kompetisi, Putry menilai kalau strateginya tersebut cukup berhasil. Kini ia telah dikenal oleh para pekerja media yang berbondong-bondong meminta kesempatan wawancara, para tokoh-tokoh di dunia startup dan fesyen yang tertarik untuk bermitra dengan dirinya, serta para investor.

Saat ini Kostoom telah mendapat pendanaan tahap awal dari seorang angel investor yang tidak bisa disebutkan namanya. Putry sendiri menyatakan kalau ia sebenarnya tidak pernah mengajukan Kostoom kepada investor mana pun. Investor tersebutlah yang mendatangi dirinya.

Namun terkait dengan bisnis yang ia jalankan, Putry mengaku kalau berbagai kompetisi yang ia jalani tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Hadiah yang ia terima dari berbagai kompetisi tersebut pun jumlahnya tidak terlalu besar.

“Kebanyakan pelanggan kami justru mengetahui Kostoom dari pemasaran yang kami lakukan lewat grup Facebook dan berbagai channel media sosial lainnya,” ujarnya lagi.

Putry sendiri mengaku kalau ia tidak akan lagi mengikuti kompetisi startup di kemudian hari. Ia hanya akan mengikuti kompetisi-kompetisi berskala internasional, yang berpotensi mendorong perkembangan Kostoom di dalam maupun luar negeri secara signifikan.

Beberapa kesalahan yang sempat terjadi di awal

Kostoom | Screenshot

Sebagai seorang founder pemula, Putry mengaku kalau ia sempat melakukan beberapa kesalahan di awal kemunculan Kostoom. Salah satunya adalah tidak siapnya mereka saat meluncurkan layanan untuk pertama kalinya.

Baca Juga  Dapatkan Satu Juta Pengiklan, Instagram Berencana Luncurkan Fitur Booking

“Saat melakukan launching, kami sebenarnya hanya mau melakukan tes. Namun tiba-tiba para penjahit langsung berbondong-bondong untuk mendaftar, dan pesanan pun langsung datang. Hal tersebut membuat kami terpaksa mengecewakan beberapa pelanggan,” kenang Putry.

Kesalahan lain yang ia lakukan adalah berasumsi kalau semua penjahit mengerti tentang pola pakaian, padahal ternyata tidak. Akibatnya, banyak hasil jahitan yang salah ketika akan dikirimkan kepada para konsumen.

Menurut Putry, hal ini bisa menjadi pelajaran bagi para founder lain yang baru akan membangun startup. Mereka harus menganalisis lebih dalam tentang bisnis yang akan mereka jalankan, dan target pasar yang akan mereka sasar.

Putry juga mengaku kalau pertumbuhan Kostoom terasa cukup lambat di awal kemunculannya. Hal itu dikarenakan keengganan dirinya untuk merekrut pegawai, sebelum ia mendapat investasi.

Saya tidak ingin menjual mimpi, dan merekrut pegawai tanpa memberi mereka gaji. Beberapa founder lain mungkin mempunyai pendapat yang berbeda, namun bagi saya hal tersebut adalah langkah yang tepat.

Sempat melakukan beberapa pivot

Kostoom | Tim

Pada awal kemunculannya, Kostoom sendiri hanya menghadirkan layanan untuk konsumen perseorangan (B2C). Namun untuk itu, mereka akhirnya menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penjemputan ke rumah konsumen yang berbeda-beda. Padahal saat itu mereka belum mempunyai satu pun pegawai.

Akhirnya sekitar bulan April 2016, mereka pun memutuskan untuk beralih ke pasar business to business (B2B). Mereka menetapkan kalau pesanan yang mereka terima harus berjumlah minimal dua lusin. Kebanyakan pelanggan mereka hingga saat ini adalah para reseller, yang sebelumnya menjual barang milik orang lain lewat Instagram dan Facebook.

“Mereka sebenarnya ingin membuat pakaian sendiri melalui konveksi konvensional, namun untuk itu mereka harus memesan dalam jumlah yang cukup banyak. Kostoom pun menjadi solusi yang terjangkau bagi mereka,” jelas Putry.

Baca Juga  aCommerce Andalkan Platform B2All untuk Bantu Perusahaan Offline Berjualan Online

Saat ini, Putry mengaku kalau Kostoom telah kembali menerima pesanan baju satuan, seiring dengan makin banyaknya pegawai yang ia miliki. Mereka telah mempunyai sekitar lima belas pegawai, dan setiap bulannya menerima pesanan untuk membuat sekitar empat ribu pakaian.

Dalam waktu dekat, Kostoom juga akan merilis sebuah aplikasi mobile yang nantinya akan memudahkan para pengguna ketika melakukan pemesanan. Selain Kostoom, ada startup lain yang cukup rajin mengikuti kompetisi, seperti Sevva. Sebelum bergabung dengan program Ideabox, mereka sempat mengikuti Seedstars Jakarta 2016, dan kompetisi Arena di Tech in Asia Jakarta 2016.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post Perjalanan Kostoom, Startup yang Mengikuti Delapan Kompetisi dalam Waktu Satu Tahun appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *