Permintaan Maafku Terhadap Tuhan, Atas Segala Kesalahan yang Mungkin Tak Termaafkan

[ad_1]

Aku kalut, aku tersesat.

Sendiri ini, tidak aku milik orang lain. Bukan, dan bukan. Aku merasa dia juga masih tak sanggup memiliki orang sepertiku. Intinya seperti ini, aku membutuhkan sosok yang tak hanya meng-iyakan apa yang dia mau, dan menolak apa yang ia tak suka. Itu sudah tak cukup adil bagiku.

Diri ini membutuhkan orang yang mampu membuang barang yang tak pantas ku sentuh, dan bukan hanya rengekan semata. Bagiku itu menyebalkan. Seperti ini contohnya, aku butuh pundak, tapi mereka hanya datang saat membutuhkan dada. Aku orang yang linglung, tak tahu arah mata angin, mudah lupa jalan, dan yang membuatku semakin tersesat adalah, peta itu memilih melika-likukan jalanku.

Sebodoh-bodohnya aku, aku masih punya impian untuk bahagia.

Bahagia bagiku adalah ketika cita-cita kanak-kanakku tercapai. Menjadi pengusaha atau seorang penulis dengan ilmu yang ku punya, mendapatkan pasangan yang seiman dan membahagiakan keluargaku. Haha, dan aku harus ingat, aku yang merusak semua. Mulai dari sekolah dasar dengan matematika yang rendah, sekolah menengah pertama yang standart dan sekolah menengah atas yang aku rusak seperti anak lainnya. Semua tak selurus yang aku kira. Aku bukan perempuan polos lagi, bahkan aku bukan gadis yang cantik seperti kata orang. Iya, aku harus bercermin dengan kaca yang memenuhi ruangan supaya aku sadar, awal yang menghancurkan semuanya adalah aku. Myself.

Jika tak ada kebahagiaan masa kecil yang aku impikan dulu, bisakah aku bahagia dengan apa yang tersisa?

Sisanya, aku hanya punya orang tua dan adik-adikku, bisakah Tuhan membuat mereka bahagia? Aku punya seorang kekasih, bisakah Kau menjadikan kami cinta sejati? Karena aku sudah terlalu lemah untuk menata jalanku. Mereka yang bisa menuntunku, namun bisakah mereka tahan dengan diriku yang penuh dengan kerikil tajam ini? Aku masih punya perasaan, meskipun kini hampir buta karena rasa takut, kecewa, dendam dan iri. Namun, jauh di relung jiwaku, masih ada diriku yang cengeng, lemah, dan penyayang. Mungkin aku seperti itu karena aku tak ingin dianggap lemah.

Tuhan, aku tahu, Kau tahu diriku yang butuh penjagaanmu..

Aku pernah berharap menjadi wanita cantik dengan menjalankan syariat agama. Ingin, tapi aku malu. Aku tak tahu harus mulai darimana. Diriku masih sekecil ini, namun pikiranku sudah teracun dengan kedewasaan, bukankah jika menikah tak terpaut umur. Bukankah itu memang langkah pertama? Untuk melepaskannya pun aku tak sanggup, untuk menjalankan itu, aku sangat ingin namun terlalu munafik untuk diriku yang seperti ini. Mungkin aku seperti ini karena aku tak mau bersujud. Tapi apakah Kau sudi dengan orang sepertiku yang hadir ketika sangat membutuhkan? Tuhan aku mohon, aku harus mulai darimana?

Umurku semakin berkurang, aku takut, aku pergi tanpa bekal..

Baca Juga  Inilah 3 Penyebab Utama Stres Dalam Hidup yang Perlu Kamu Hindari, Mumpung Belum Telat!

Aku tak bahagia, seharusnya hari itu tak ada, aku semakin tertekan rasanya. Aku terejek waktu yang seharusnya aku membawa bekal namun aku buang sia-sia. Entah sampai kapan umurku, aku mohon Tuhan berikan aku hidayah-Mu untuk berubah.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *