Rahasia Kesuksesan Layanan Streaming Video di Asia

[ad_1]
Artikel ini disponsori oleh: App-Annie-Logo

Layanan streaming video di platform mobile kini perlahan namun pasti mengubah cara kita mengonsumsi media. Popularitas aplikasi streaming berbasis video kini semakin naik daun  di Asia. Di Cina, live streaming diperkirakan akan bernilai hingga US$5 miliar (sekitar Rp66,6 triliun) pada tahun 2018.

Menariknya,  di tengah serbuan Netflix dan YouTube yang telah mendunia, App Annie melaporkan bahwa ada beberapa aplikasi lain yang  berhasil lebih populer dan meraih pendapatan lebih tinggi  di Asia. Apa saja aplikasi-aplikasi tersebut?

Live streaming sukses “mencuri” hati — dan isi dompet — kita

“Saya mau jadi YouTuber.” Bukan astronot, dokter, atau reporter.

Dari Inggris hingga Jepang, jumlah generasi muda yang bercita-cita untuk menjadi seorang streamer online jumlahnya terus meningkat.

Dan bagaimanakah cara streamer online mencari uang? Transaksi mikro.

Model monetisasi yang terbenam di dalam aplikasi akan melengkapi pengalaman live streaming pengguna. Kamu menyukai apa yang kamu lihat di layar? Kamu dapat memberikan “hadiah” atau memberikan donasi kepada streamer secara langsung. “Hadiah” ini dapat berupa “balon bintang”, seperti yang ramai di kalangan streamer Korea Selatan, atau bahkan sebuah Ferrari.

Efek dari pemberian hadiah ini cukup instan. Para streamer mengetahui adanya kehadiran para fan, dan para fan memiliki kebanggaan tersendiri karena telah berkontribusi dalam aktivitas  tersebut.

Branded Content Video Streaming - The Bridge

Tidak heran banyak orang  yang ingin mencoba peruntungan melalui  tren ini. Live streaming menawarkan kesempatan untuk dapat menyiarkan sesuatu dan sekaligus meningkatkan ketenaran para streamer. Ketenaran inilah yang akan memberikan mereka uang dan barang-barang gratis lainnya, dari mulai perlengkapan video hingga produk-produk tertentu — bahkan kursi yang dapat mereka gunakan pada saat streaming.

Baca Juga  Demi Gaet Penulis Berkualitas, UC News Siap “Hamburkan” Rp10 Miliar Setiap Bulan

Dengan fan yang loyal dan gemar memberikan gift, model bisnis seperti ini juga akan menawarkan peluang untuk berbagi hasil antara penyedia layanan dengan streamer.

Apakah kamu  ingin mempelajari lebih banyak lagi tentang bagaimana membuat sebuah aplikasi video streaming di Asia? Unduh App Annie’s 2016 Video Streaming in Asia Report sekarang dengan mengisi form di bawah ini.

https://go.pardot.com/l/119182/2017-02-20/3cjjgq

Masyarakat Asia menyenangi konten yang dilokalisasi

Banyak dari kita yang menggemari serial di i Netflix seperti Stranger Things dan House of Cards. Uniknya, meski Netflix memilki konten ala Hollywood yang sangat populer, ternyata tidak sedikit yang lebih menggemari konten lokal.

Di Korea Selatan misalnya, ada Pooq yang berfokus kepada acara-acara  Korea seperti reality show dan drama. Begitu juga dengan iQiyi, yang lebih banyak menawarkan acara-acara khas Mandarin, dari mulai acara modern hingga drama dengan efek visual serta bumbu bela diri kungfu yang kental.

Aplikasi live streaming juga mengenal preferensi lokal ini. Di Jepang dan Korea Selatan, kultur pop didominasi oleh para idola pop dan selebriti. Aplikasi seperti Showroom dan V – Live Broadcasting didedikasikan untuk para selebriti lokal yang ingin melakukan sesi streaming yang lebih intim. Setengah jam bersama bintang pop Korea Selatan Big Bang tentunya akan meraih lebih banyak perhatian di negara tersebut ketimbang sebuah acara TV yang dibintangi oleh Neil Patrick Harris.

Branded Content Video Streaming - V Live

Netflix kini telah berupaya untuk menghadirkan konten lokal. Mereka bahkan membuat sebuah acara lokal sendiri di Asia untuk menjawab permintaan penonton.

Yang harus diperhatikan layanan streaming berbasis video

Apabila kamu ingin aplikasi live streaming kamu menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, berikut adalah beberapa rekomendasi yang diambil dari beberapa studi kasus App Annie  beberapa studi kasus, serta data yang dikompilasi oleh App Annie Intelligence.

Baca Juga  Mengenal Rianti Hidayat, Artis Indonesia di Balik The Legend of Zelda: Breath of the Wild

Pertama, mainkan kekuatan device dan platform. Aplikasi streaming harus mampu mengoptimalkan penggunaan layar serta memiliki desain antar muka yang lebih baik. Sebagai contoh, orientasi landscape dari aplikasi Showroom akan menciptakan pengalaman seperti saat kamu berada di dalam bioskop. Para viewer digambarkan dengan sebuah virtual avatar, yang memungkinkan mereka untuk lebih mudah berinteraksi dengan para performer.

Kemudian, live streamer harus mampu untuk menggunakan inovasi teknologi agar dapat menyajikan pengalaman yang berkelas dunia bagi audiens. Sebagai contoh, teknologi seperti augmented reality (AR) dan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) dapat meningkatkan pengalaman audiens ketika sedang menonton stream yang kamu adakan. Aplikasi seperti Inke juga menawarkan equalizer suara yang memungkinkan para streamer untuk melakukan pengaturan suara ketika mereka akan bernyanyi secara live.

Jangan hanya duduk manis dan menunggu uang menghampirimu: lakukan interaksi dengan audiens kamu secara offline. Banyak aplikasi live streaming menawarkan solusi bagi hasil dengan para streamer papan atas. Untuk membedakan dirimu dengan streamer lain, buatlah sebuah event dan kompetisi yang akan memicu interaksi antara streamer dan penonton. Sebagai contoh, V Live menawarkan streamer papan atas dan para fan mereka kesempatan untuk memenangkan hadiah tertentu — termasuk bertemu langsung dengan streamer idola mereka.

Apabila kamu adalah seorang developer aplikasi video, hal ini adalah kabar baik. Namun di sisi lain, konsumen,  cepat atau lambat layar perangkat mobile  kamu akan terasa terlalu kecil.


 

Tentang App Annie

App Annie menghadirkan data dan insight yang paling terpercaya untuk bisnis kamu sebagai acuan agar sukses di kancah aplikasi global. Lebih dari 700.000 anggota yang terdaftar mengandalkan App Annie untuk dapat memahami pasar aplikasi, bisnis mereka, serta berbagai kesempatan yang ada di sekitar mereka.

Perusahaan ini bermarkas di San Francisco dengan 450 karyawan yang terbagi di 15 kantor di seluruh dunia. App Annie telah menerima pendanaan hingga US$ 157 juta (sekitar Rp2,1 triliun), termasuk dari investor seperti e-ventures, Greenspring Associates, Greycroft Partners, IDG Capital Partners, Institutional Venture Partners dan Sequoia Capital. Untuk informasi lebih lanjut, kamu dapat mengaksesnya di sini.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris oleh Pearl Lee. Informasi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi; diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

Baca Juga  Pemerintah Dukung Pembangunan Infrastuktur Jaringan 5G di Indonesia

The post Rahasia Kesuksesan Layanan Streaming Video di Asia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *