Satu Dekade ArtLogic Games, Pantang Menyerah meski Harus Ubah Paradigma

[ad_1]
Pada suatu hari di tahun 2007, di tengah-tengah kesibukan seorang Rudy Sudarto membantu bisnis keluarga, datang ajakan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Seorang teman mengajaknya untuk memulai usaha di bidang yang kurang umum saat itu, yaitu pengembangan video game. Merasa tak ada ruginya, Rudy pun menerima ajakan tersebut dan mendirikan ArtLogic Games.

Tak disangka, aktivitas yang dimulai dari sekadar iseng tanpa visi, misi, atau target jelas tersebut malah menjadi profesi utama Rudy hingga kini. Bahkan, ArtLogic Games menjadi salah satu dari segelintir developer yang masih terus berkarya di tengah sengitnya persaingan industri video game global.

Perjalanan ArtLogic Games yang berusia satu dekade pada tahun 2017 ini telah membawa Rudy dan tim kepada berbagai pengalaman. Namun, menurut Rudy, masih banyak yang ingin ia kejar ke depannya.

Amati, tiru, dan kembangkan

Rudy Sudarto | Photo

Founder dan CEO ArtLogic Games, Rudy Sudarto

“Karya pertama kami merupakan game manajemen waktu berjudul Busy Hospital. Game tersebut dibuat berdasarkan Diner Dash yang tengah naik daun pada saat itu,” kenang Rudy.

Busy Hospital merupakan game berbasis Flash yang dirilis untuk browser PC. Saat pengembangannya, Rudy melakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui game apa yang sedang tren, lalu melakukan modifikasi dan penyempurnaan agar karya buatannya menjadi unik.

Pendekatan tersebut terus ia pakai hingga saat ini. Rudy masih setia melakukan riset di genre midcore yang memang ia senangi. “Saya mainkan beberapa game, lalu diskusikan dengan tim. Tentunya kami melakukan modifikasi saat pengembangan, tidak mentah-mentah kami tiru game yang jadi referensi,” ujar Rudy.

Pendekatan ini lebih disukai oleh ArtLogic Games ketimbang mengembangkan game dari nol. Menurut Rudy, pendekatan amati, tiru, dan kembangkan membuat proses pengembangan game menjadi lebih terarah, sekaligus melakukan mitigasi risiko gagal di pasaran saat game dirilis kelak.

Nafkah nyata dari video game

Epic War | Screenshot

Meski telah mengambil pendekatan yang mengurangi risiko gagal, bukan berarti semua game buatan ArtLogic Games lantas menjadi hit. Rudy mengaku Busy Hospital sebagai game perdananya tidak terlalu sukses.

Baca Juga  Alasan Bukalapak Hadirkan Berbagai Produk Baru Sepanjang Tahun 2017

Namun nasib Rudy mulai berubah saat ArtLogic Games merilis Epic War di tahun 2008. Game tersebut cukup berhasil di pasaran, hingga Rudy akhirnya merasakan kesuksesan dari segi finansial. “Kami akhirnya merasa bahwa menjadi developer game merupakan profesi yang menjanjikan,” akunya.

Epic War bisa dibilang merupakan titik balik Rudy dan tim sebagai developer game. Berkat kesuksesan awal yang mereka capai, niat menjadi developer game yang semula ditekuni atas dasar iseng berubah menjadi serius.

Keberhasilan Epic War membuat ArtLogic Games menggarap game tersebut hingga beberapa seri serta membuat spin-off. Pada tahun 2017, Epic War telah berkembang hingga enam seri utama serta menjadi salah satu tambang uang bagi ArtLogic Games.

Transisi dari Flash ke mobile

Castle Champions | Featured

Nama ArtLogic Games di ranah game Flash kian berkibar setelah Epic War. Berbagai game secara rutin mereka rilis di platform Flash. ArtLogic Games bahkan pernah mendapatkan tawaran dari developer pihak ketiga untuk kerja sama pengembangan Epic War di platform mobile.

Seiring dengan evolusi industri game, ArtLogic Games pun mau tak mau harus mengikuti perkembangan zaman. Platform mobile yang terus mengalami peningkatan pesat membuat Rudy dan tim tertarik untuk menjajal kemampuan mereka di ranah baru. Pada tahun 2013, mereka pun menjalin kerja sama dengan Gamenauts untuk merilis game mobile perdana mereka, yaitu Castle Champions di iOS.

“Platform mobile menghadapkan kami dengan industri game yang benar-benar berbeda dibanding sebelumnya. Mau tidak mau, kami harus belajar banyak, mengubah paradigma, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” tutur Rudy.

Kejutan yang dirasakan ArtLogic Games antara lain bersumber dari model bisnis berbeda di kedua platform. Bila sebelumnya ArtLogic Games mengembangkan game sebagai produk yang dijual ke pihak pengelola platform, mereka harus mengubah kerangka pikir untuk mengembangkan game sebagai servis.

Sugar Tales | Featured

Tantangan yang mereka hadapi semakin sulit sejalan dengan kian meredupnya industri game Flash. Pasar game Flash sudah tidak lagi seseksi dulu, karena para gamer kasual kebanyakan telah beralih ke perangkat mobile daripada memainkan game berbasis Flash melalui browser PC.

Baca Juga  WhatsApp Tengah Uji Coba Layanan Pengiriman Pesan Khusus untuk Bisnis

Meski performa Castle Champions diakui “biasa saja” oleh Rudy, ArtLogic Games tak gentar untuk bekerja sama dengan penerbit Difference Games dalam perilisan game mobile mereka selanjutnya, yaitu game puzzle match-3 berjudul Sugar Tales.

Bila kamu familier dengan game populer di platform mobile, mungkin kamu sudah mengetahui inspirasi di balik game ini. “Ya, terinspirasi dari Candy Crush Saga,” kata Rudy. Sama seperti game buatan King tersebut, Sugar Tales pun pertama kali dirilis untuk platform Facebook.

Merambah bisnis penerbitan

Gimku Games | Screenshot

Selain menekuni bidang pengembangan game, Rudy juga memasuki bisnis penerbitan game mobile dengan bendera Gimku. Game yang mereka terbitkan sejauh ini merupakan karya-karya dari developer tanah air, selain tentunya karya buatan sendiri.

Sejauh ini terdapat beberapa game yang telah diterbitkan Gimku, antara lain Super Little Jogger buatan Firebeast Studio, Flou buatan Stellar Null, serta Epic War VI buatan ArtLogic Games.

Bergerak di bidang penerbitan game memberikan banyak pelajaran serta pengalaman. Salah satunya adalah kasus Epic War VI terbitan Gimku pernah ditarik oleh Google karena laporan pengguna Google Play. Epic War VI di Google Play sempat diduga sebagai hasil bajakan dari versi Flash, semata-mata karena ketidaktahuan pelapor bahwa Gimku dan ArtLogic Games sebenarnya dinaungi oleh pihak yang sama.

Meski perkembangan Gimku memiliki potensi, namun Rudy mengaku bahwa usaha penerbitan game miliknya saat ini belum memiliki judul baru untuk dirilis. “Saat ini saya ingin berkonsentrasi dengan ArtLogic Games,” ujarnya.

Bertahan dengan modal sendiri

Birdstopia | Screenshot

Diakui oleh Rudy, kiprah ArtLogic Games di platform mobile belum secemerlang masa-masa keemasan mereka di ranah game Flash. Meski secara rutin merilis game, belum ada yang benar-benar melejit. “Masih cukup (untung), setidaknya balik modal,” ujar Rudy saat ditanya bagaimana profitabilitas dari berbagai game yang ia rilis.

Dengan memiliki anggota tetap berjumlah sekitar delapan orang, ArtLogic Games sejauh ini mampu bertahan dengan mengandalkan hasil yang mereka peroleh dari mengembangkan game. “Untungnya ArtLogic Games punya kelebihan dana dari penjualan game Flash dulu, sehingga kami masih bisa berkreasi secara independen hingga saat ini,” ujar Rudy.

Baca Juga  Lima Pelajaran Menarik dari Lima Bulan di Silicon Valley

ArtLogic Games juga sudah memiliki berbagai properti intelektual dari hasil pengembangan game mereka terdahulu di ranah Flash. Berbekal properti intelektual tersebut, mereka membuat penyesuaian gameplay di platform mobile sehingga lebih cocok dimainkan oleh para gamer kasual masa kini.

Monster Age | Screenshot

Sebagai contoh, game Monster Age yang mereka rilis pada pertengahan tahun 2016 lalu merupakan evolusi dari Monster Saga yang sebelumnya dirilis di Flash. ArtLogic Games menambahkan berbagai fitur, seperti quest harian, tampilan iklan, hingga fitur Guild yang familier di mata para gamer mobile.

ArtLogic Games juga tidak sungkan untuk merambah genre baru. Game yang mereka rilis baru-baru ini, yaitu Birdstopia, merupakan game clicker yang dikemas dalam gaya desain datar. “Kami ingin mencoba sesuatu yang baru, setelah mengembangkan Monster Age dalam jangka waktu yang cukup lama,” ujar Rudy.

Terus berkarya

ArtLogic Games Team | Photo

Tim ArtLogic Games saat menghadiri acara Game Developers Gathering 2015

Meski belum memiliki game mobile yang hit, baik Rudy dan timnya tidak patah arang untuk terus berkarya. Bahkan, Rudy mengaku sudah memiliki beberapa game yang masuk dalam jadwal pengembangan ArtLogic Games.

Salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi saat ini adalah mencari talenta yang mumpuni. Walau terdapat banyak tenaga kerja dengan kemampuan programming atau menggambar, tapi yang memiliki keahlian mengembangkan game mumpuni menurutnya cukup sulit ditemui.

ArtLogic Games masih memiliki ambisi besar yang ingin mereka capai di masa depan. Meski belum bisa membagikan rencana konkret ke depannya, namun Rudy terbuka terhadap segala kemungkinan, seperti kerja sama dengan developer lain atau menerima pendanaan.

Di samping segala tantangan yang dihadapi dan masa depan yang belum pasti, Rudy meyakinkan bahwa ArtLogic Games masih akan terus berkarya dan berkembang. “Harapannya tidak terbatas pada ArtLogic Games saja, tapi terhadap perkembangan industri game Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Rudy.

(Diedit oleh Mohammad Fahmi)

The post Satu Dekade ArtLogic Games, Pantang Menyerah meski Harus Ubah Paradigma appeared first on Tech in Asia Indonesia.

[ad_2]
Sumber

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *