Sharing Economy di Ranah Properti: Untung atau Buntung?

Artikel ini dipersembahkan oleh: Sharing Economy - Logo Homtel


Beberapa tahun belakangan, istilah sharing economy menjadi topik yang cukup ramai di kalangan pelaku bisnis. Jika kamu sudah pernah menggunakan jasa transportasi berbasis aplikasi seperti Uber, dan GO-JEK, atau kamu pernah menyewa kamar melalui aplikasi Airbnb, berarti kamu juga turut berpartisipasi dalam bisnis sharing economy.

Model bisnis kolaboratif ini berusaha untuk menghubungkan antara satu pengguna dengan pengguna lainnya yang menyediakan barang atau jasa. Tidak seperti korporasi atau startup yang menjual langsung barang maupun jasa mereka, startup yang menggunakan model sharing economy ini berusaha untuk memberdayakan pengguna yang memiliki aset tertentu untuk memberikan manfaat bagi pengguna lainnya.

Sebagai contoh, Uber dan GO-JEK tidak memiliki armada angkutan sendiri, namun memiliki ribuan mitra — bukan karyawan — yang akan memberikan layanan antar jemput bagi pengguna aplikasi mereka. Dengan sistem kemitraan inilah mereka menghubungkan masyarakat satu sama lain demi memberikan manfaat yang merata bagi semua orang.

Potensi sharing economy

Sharing Economy - Uber

Sumber: Pexels

Startup seperti Uber dan Airbnb adalah sedikit contoh yang mewakili industri sharing economy. yang disebut-sebut dapat mengancam eksistensi industri besar lainnya. Menurut PricewaterhouseCoopers, pada tahun 2015 nilai valuasi sharing economy telah menyentuh angka US$15 miliar (sekitar Rp200 triliun). Apabila industri ini terus berkembang pesat, pada tahun 2025 bisnis sharing economy akan mencapai angka valuasi hingga US$335 miliar (sekitar Rp4,5 kuadriliun). Angka ini bahkan melebihi valuasi pasar dari industri virtual reality, yang hanya mampu mencapai angka US$162 miliar (sekitar Rp2,2 kuadriliun) pada tahun 2020.

Tidak seperti namanya, model bisnis sharing economy ini sebenarnya tidak sepenuhnya “berbagi”, namun akan lebih tepat apabila kita sebut model bisnis ini sebagai “penyedia akses”. Masyarakat membutuhkan kemudahan akses transportasi, akomodasi, dan akses ke banyak hal lainnya. Inilah yang membuat bisnis sharing economy berhasil mendulang sukses, baik di ranah lokal maupun mancanegara.

Perkenalkan, Rudi

Sharing Economy | Rudi

Rudi adalah seorang pekerja yang tinggal di Jakarta sejak tahun lalu. Ia memutuskan untuk berhenti kerja sebagai seorang desainer dan ingin mengembangkan bisnis warnet miliknya. Sayangnya, modalnya masih kurang cukup untuk ia memulai bisnisnya tersebut.

Agar modal bisnis warnet serta kebutuhan sehari-harinya tercukupi, Rudi memanfaatkan model bisnis sharing economy dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Rudi memiliki sebuah apartemen kosong yang belum sempat ia tempati. Ketimbang kosong, Rudi menyewakan apartemennya melalui jasa listing properti. (Tambahan pemasukan Rp4 juta per bulan)
  • Sambil mengisi waktu luangnya, Rudi bergabung bersama dengan layanan taksi online untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari mobil yang ia miliki.(Tambahan pemasukan Rp5 juta per bulan)
  • Setelah menikah, Rudi bersama istrinya juga memulai bisnis jual beli pakaian bayi di salah satu marketplace online. (Tambahan pemasukan Rp2 juta per bulan)
  • Rudi juga menjalankan profesinya sebagai  desainer lepas  di salah satu situs freelancer lokal. (Tambahan pemasukan Rp3 juta per bulan)
Baca Juga  5 Hal yang Patut Kamu Perhatikan demi Jaga Kesetiaan Pengguna Aplikasi Mobile

Dengan melakukan beberapa kegiatan tersebut, Rudi berhasil menghasilkan pendapatan sebesar Rp15 juta per bulan. Ini bahkan jauh lebih besar dari apa yang ia dapatkan ketika ia masih bekerja sebagai karyawan. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas di atas, Rudi dapat berhenti sebagai karyawan dengan tenang, mengembangkan bisnis warnetnya, kebutuhan rumah tangga juga tetap tercukupi.

Rudi adalah salah satu contoh dari mereka yang berhasil memanfaatkan sistem sharing economy. Daripada membiarkan aset miliknya (apartemen dan mobil menjadi sekedar barang untuk konsumsi pribadi) , Rudi memilih untuk memanfaatkan kedua aset tersebut dan memberikan manfaat kepada orang lain sambil mendapatkan keuntungan.

Salah satu yang menghasilkan pendapatan terbesar bagi Rudi adalah pendapatan dari sewa apartemen. Investasi dalam bidang properti memang selalu menarik perhatian, karena nilainya yang selalu naik setiap tahun. Tetapi ternyata ada cara untuk memaksimalkan nilai investasi properti kamu dengan memanfaatkan sharing economy.

Sharing economy dan investasi di bidang properti

Sharing Economy - Inside of an Apartment

Sumber: Pexels

Di kota besar seperti Jakarta, ruang hunian memang menjadi komoditas yang sangat menggiurkan karena harganya yang terus meroket. Harga properti yang terus meningkat ini disebabkan oleh besarnya permintaan rumah di tengah kota, sementara ketersediaan tanah yang ada kurang mencukupi. Karenanya, untuk mengakomodasi permintaan pasar yang cukup besar ini, para pengembang membangun hunian vertikal yang tidak memakan terlalu banyak lahan seperti apartemen.

Menurut Managing Director of Synthesis Residence Kemang, Mandrowo Sapto, investasi properti vertikal di Jakarta masih sangat menguntungkan, terlepas dari kondisi finansial negara ini. Faktor kunci yang menjadi alasan mengapa harga apartemen di Jakarta dapat melambung tinggi adalah upaya agresif dari pemerintah untuk membangun berbagai infrastruktur di ibu kota. Sapto menambahkan juga bahwa harga apartemen di Jakarta sangat mungkin untuk meningkat tajam hingga 50 persen pada tahun pertamanya. Hal ini jelas sangat menarik bagi para pemain di pasar properti.

Sharing Economy - Apartemen Green Pramuka

Sumber: Flickr

Karena nilainya yang terus naik, orang-orang lebih memilih untuk membeli apartemen sebagai wahana investasi atau hanya menjadi tempat sementara mereka agar lebih dekat dengan sekolah atau kantor — yang nantinya tetap akan disewakan atau dijual apabila sudah tidak ditempati. Dengan melakukan cara yang benar untuk memaksimalkan nilai properti, kamu akan mengubah unit apartemen kamu menjadi sebuah mesin uang.

Baca Juga  10 Cara Mengukur Efektivitas Kampanye PR Digital di Startup Kamu

Tak banyak yang mengira sebelumnya, ketika startup seperti Airbnb berhasil memasuki pasar properti dengan memanfaatkan sharing economy. Airbnb berhasil menghubungkan para pemilik properti dengan pasar penyewa yang saat itu hanya dikuasai oleh industri travel dan akomodasi. Momen yang tepat serta eksekusi yang sempurna berhasil menjadikan Airbnb sebagai salah satu pemimpin pasar di bidang marketplace properti.

Potensi yang ada di ranah properti inilah yang mulai dibidik oleh beberapa perusahaan, dan beberapa diantaranya membawa ke tahap yang lebih tinggi lagi. Tidak hanya menghadirkan daftar properti di marketplace secara online, ada juga yang berupaya untuk memaksimalkan nilai investasi dari sebuah properti, khususnya unit apartemen.

Memaksimalkan nilai properti dengan teknologi

Sharing Economy - Application

Sumber: Pexels

Apabila kamu adalah pemilik unit apartemen yang ingin memperoleh pendapatan tambahan dari uang sewa apartemen seperti Rudi, kamu dapat mencoba untuk mengelola apartemen kamu sendiri, atau menggunakan jasa perantara (broker) untuk mengelolanya. Sayangnya, kedua hal tersebut dirasa kurang efektif dan efisien.

Dengan mengelola sendiri, kamu akan mendapatkan keuntungan sepenuhnya, hanya saja kamu akan butuh waktu ekstra untuk melakukan perawatan unit, mencari penyewa dan hal lainnya. Sementara dengan perantara kamu tidak akan dapat mengontrol penyewaan sepanjang waktu, walaupun perantara akan mempermudahmu untuk mendapatkan penyewa unit apartemen.

Permasalahan inilah yang berusaha untuk diselesaikan oleh Homtel, startup penyedia layanan mobile serviced residence dan marketplace properti. Homtel menyatukan kemudahan pengelolaan properti dengan transparansi laporan melalui solusi berbasis web dan aplikasi yang mereka berikan. Startup ini memiliki dua layanan yang menarik untuk meningkatkan nilai investasi unit apartemen.

Yang pertama adalah Homtel CRM Dashboard. Aplikasi ini akan memudahkan pengguna untuk melakukan pengelolaan unit properti, menampilkan laporan penggunaan unit, pemesanan paket servis serta informasi tamu yang menginap di unit yang disewakan. Tidak seperti perantara yang hanya bertugas untuk menjual atau menyewakan unit, Homtel akan menyulap unit apartemen menjadi mirip dengan sebuah kamar hotel, yang akan sekaligus meningkatkan nilai investasinya serta menghasilkan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan penyewa.

Sharing Economy - Homtel Dashboard

Dengan fitur yang lengkap pada dashboard mereka, Homtel akan mempermudah pengguna untuk melacak seluruh aktivitas yang berkaitan dengan properti mereka.

Selain itu, Homtel juga menyediakan jasa marketplace bagi mereka yang sedang mencari hunian ideal di areal strategis seluruh Indonesia. Dengan marketplace ini, kemungkinan unit apartemen kamu untuk dapat ditemukan oleh para penyewa menjadi semakin besar. Berbeda dengan Airbnb yang menyewakan segala jenis properti (Apartemen, Rumah, Cottage, Villa, Resort, atau bahkan Igloo), Homtel hanya berkonsentrasi pada penyewaan unit apartemen.

Baca Juga  3 Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Saat Hendak Bekerja Sama dengan Penerbit Game

Pemanfaatan sharing economy di ranah properti akan memudahkan, baik untuk pemilik unit dan penyewa, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Para pemilik unit mendapatkan keuntungan dari pengelolaan pihak ketiga terhadap apartemen mereka, sementara para penyewa akan mendapatkan sebuah unit dengan pelayanan sekelas hotel.


Demi terlaksananya sharing economy yang efektif di bidang properti, salah satu faktor yang mengambil peranan penting adalah pemanfaatan teknologi. Dengan adanya bantuan teknologi, kita tidak lagi perlu melakukan berbagai pengecekan secara manual, karena dengan bantuan aplikasi pemilik unit dan penyewa dapat melaporkan tentang kendala apa yang mereka hadapi pada unit properti mereka.

Dengan sistem terpadu seperti ini, nilai investasi kamu dapat meningkat. Hadirnya marketplace akan juga akan memperbesar peluang dari pemilik unit apartemen untuk mendapatkan penyewa. Para penyewa juga akan dimudahkan dengan adanya marketplace tersebut, karena akan lebih nyaman bagi mereka untuk mencari sebuah hunian yang ideal.


Homtel adalah sebuah solusi pengelolaan properti yang mengombinasikan antara pemanfaatan teknologi software untuk pemeliharaan unit apartemen dan marketplace yang menghubungkan pemilik unit apartemen yang ingin menyewakan unit mereka dengan pengguna yang sedang mencari hunian yang ideal untuk mereka.

Sharing Economy | CTA Button

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

The post Sharing Economy di Ranah Properti: Untung atau Buntung? appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Referensi

Leave your vote

points

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *